Beranda » BELAJAR ISLAM » ADAB & AKHLAK » Segera Kembali Ke Rumah Setelah Perjalanan

Segera Kembali Ke Rumah Setelah Perjalanan

SEGERA KEMBALI KE RUMAH SETELAH PERJALANAN

Wahai saudaraku, Perjalanan tetaplah sebuah kesulitan dan kelelahan, meskipun zaman telah berubah dan teknologi transportasi semakin maju. Maka sabda Rasulullah ﷺ tetap menjadi bukti kebijaksanaan dan mukjizat beliau:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ نَوْمَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ.

“Perjalanan itu adalah bagian dari siksaan. Ia menghalangi seseorang dari tidurnya, makan, dan minumnya. Maka apabila seseorang telah menyelesaikan keperluannya, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)

Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar raḥimahullāh berkata: “Hadis ini menunjukkan larangan bepergian terlalu lama tanpa keperluan yang mendesak, serta anjuran untuk segera kembali setelah menyelesaikan urusan. Terutama bagi mereka yang keluarganya dapat terlantar karena ketidakhadirannya. Tinggal bersama keluarga memberikan ketenangan, membantu dalam menjaga agama dan urusan dunia, menjaga kebersamaan, dan menumbuhkan kekuatan untuk menjalankan berbagai ibadah dengan lebih baik.”[1]

Tahukah engkau, wahai saudaraku, bagaimana para ulama rabbani memahami hadis-hadis Nabi ﷺ dengan begitu mendalam? Sesungguhnya, kesulitan dalam safar tidak terbatas hanya pada panjangnya perjalanan. Realitas yang engkau alami, saudaraku, adalah bukti terbaik untuk hal itu. Maka, ambillah pelajaran dan hikmah dari kenyataan ini, dan jangan pernah berkata, “Itu hanyalah masalah masa lalu, sedangkan hari ini segalanya telah berubah.”

Oleh karena itu, ikutilah petunjuk Nabimu ﷺ agar engkau dapat meraih kebahagiaan dan kesuksesan sejati.

LARANGAN MENDATANGI KELUARGA DI MALAM HARI SETELAH SAFAR

Wahai saudaraku Muslim, Rasulullah ﷺ telah melarang seorang musafir mendatangi keluarganya secara tiba-tiba di malam hari setelah safar yang panjang. Dari Jābir bin ‘Abdillāh raḍiyallāhu ‘anhumā, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا أَطَالَ أَحَدُكُمُ الْغَيْبَةَ فَلَا يَطْرُقْ أَهْلَهُ لَيْلًا

“Jika salah seorang dari kalian bepergian dalam waktu yang lama, maka janganlah ia mendatangi keluarganya di malam hari secara tiba-tiba.” (HR. al-Bukhārī).

Alasan larangan ini dijelaskan dalam riwayat lain, “Agar istri yang kusut rambutnya dapat merapikannya, dan yang telah lama tidak bercukur dapat bercukur dahulu.” (HR. al-Bukhārī).

Al-Ḥāfiẓ Ibn Ḥajar berkata, “Musafir yang tiba-tiba datang setelah lama bepergian sering kali mendapati sesuatu yang tidak ia sukai. Bisa jadi ia mendapati istrinya dalam kondisi tidak siap, baik dalam hal kebersihan maupun penampilan, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman antara keduanya. Atau, bisa juga ia mendapati hal yang tidak menyenangkan, sedangkan syariat sangat mendorong agar seseorang menutupi (aib dan kekurangan) yang ada.”[2]

Ibn Abī Jamrah juga berkata, “Hadis ini menunjukkan larangan mendatangi keluarga di malam hari secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sebab, hal ini berpotensi menyebabkan ketidaksiapan mereka, seperti yang telah dijelaskan dalam hadis. Ia juga mengisyaratkan kisah seseorang yang mengabaikan larangan ini, lalu mendapati sesuatu yang tidak diinginkan di rumahnya, sehingga ia dihukum atas pelanggarannya.”[3]

Ibnu Ḥajar memberikan komentar mengenai hal ini dengan mengatakan: “Dalam hal ini, Ibn Abī Jamrah merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Khuzaymah dari Ibn ‘Umar, bahwa Rasulullah ﷺ melarang seorang laki-laki mengetuk pintu rumah istrinya pada malam hari tanpa pemberitahuan sebelumnya. Namun, dua orang tetap melakukannya, dan keduanya mendapati sesuatu yang tidak mereka sukai bersama istri mereka.”

Ia juga meriwayatkan hadis serupa dari Ibn ‘Abbās yang menyebutkan: “Keduanya mendapati ada seorang laki-laki bersama istri mereka.”

Dalam riwayat Muḥārib dari Jābir disebutkan: “‘Abdullāh bin Rawāḥah mendatangi istrinya pada malam hari, dan saat itu ada seorang wanita lain yang sedang menyisir rambut istrinya. Ia mengira wanita itu adalah seorang pria, sehingga ia menghunus pedangnya ke arahnya. Ketika hal ini diceritakan kepada Nabi ﷺ, beliau kemudian melarang laki-laki untuk mendatangi istrinya secara tiba-tiba pada malam hari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu’.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abū ʿAwānah dalam Ṣaḥīḥ-nya.[4]

Saudaraku, inilah hikmah agung yang menjadi alasan Nabi ﷺ melarang seorang laki-laki mendatangi keluarganya pada malam hari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Demi Allah, Betapa banyak hikmah yang terkandung dalam syariat Islam ini! Seandainya seseorang benar-benar merenungkannya, niscaya ia akan memahami bahwa agama kita yang mulia ini dibangun di atas maslahat besar yang menjamin keteraturan hidup dan kebahagiaan kita.

Maka, berpeganglah teguh pada adab-adab agama ini, karena sungguh, ia adalah sebaik-baik adab. Tak ada seorang pun yang berakhlak dengannya, kecuali akan semakin bersinar namanya dan meningkat derajatnya dalam kemuliaan dan kebajikan.

Semoga Allah menganugerahkan kepadaku dan kepadamu hal-hal yang bermanfaat, serta menganugerahkan kepada kita akhlak yang luhur dan keutamaan dalam beragama.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muḥammad ﷺ, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Footnote:

[1] (Fatḥ al-Bārī, 3/795)

[2] Fathul-Bārī, (9/425).

[3] Fathul-Bārī, (9/425-426).

[4] Fathul-Bārī, (9/426).

Sumber : https://shamela.ws/book/36389

Dialihbahasakan dengan sedikit penyesuaian oleh: Hafizh Abdul Rohman, Lc

Artikel ini adalah artikel berseri, pembahasan dari awal bisa lihat di sini :
https://sabilunnajah.com/langkah-bermakna-panduan-adab-dalam-safar/
https://sabilunnajah.com/istikharah-pintu-menuju-safar/
https://sabilunnajah.com/pergi-safar-hari-kamis-dan-minta-bekal-nasehat-orang-saleh/
https://sabilunnajah.com/meminta-izin-kepada-orang-tua-dan-berpamitan-kepada-keluarga/
https://sabilunnajah.com/doa-perjalanan-dan-menunjuk-pemimpin-dalam-perjalanan/
https://sabilunnajah.com/menjaga-kebersamaan-dan-akhlak-mulia-dalam-safar/

Segera Kembali Ke Rumah Setelah Perjalanan

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • kejujuran jiwa

    Kejujuran Jiwa: Kunci Perbaikan Diri dalam Cahaya Al-Qur’an

    • Jumat, 23 Mei 2025

    Jiwa Itu Mengenal Dirinya Sendiri Pembukaan: Dalam perjalanan hidup, sering kali kita sibuk melihat ke luar -menilai keadaan, mengomentari orang lain, menimbang benar atau salah menurut pandangan kita. Tapi sedikit yang mau jujur untuk melihat ke dalam, menyelami isi hatinya sendiri Al-Qur’an membimbing kita dengan sebuah kaidah agung yang mengguncang hati setiap orang yang masih […]

    Selengkapnya »
  • Mengusir Kegelisahan

    Jangan Biarkan Bayang-Bayang Masa Lalu Merampas Sinar Hari Ini

    • Senin, 12 Mei 2025

    Mengusir Kegelisahan Dengan Melupakan Masa Lalu yang Menyakitkan Pendahuluan Setiap hati memiliki rahasianya sendiri. Ada yang berdebar karena cinta, ada yang gundah karena kehilangan, ada pula yang tak pernah tenang karena dibayangi penyesalan. Tapi tidakkah kita sadar, bahwa hidup ini bukan sekadar perjalanan mundur ke masa lalu atau khayalan tentang masa depan? Ia adalah detik […]

    Selengkapnya »
  • kesucian hati

    Kesucian Hati dan Lisan sebagai Bukti Kesempurnaan Puasa

    • Senin, 17 Februari 2025

    Kesucian Hati dan Lisan Diriwayatkan oleh Al-Ḥākim dan lainnya dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda: لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ، وَجَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ “Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi puasa adalah menahan diri dari perkataan […]

    Selengkapnya »
  • Peringatan terhadap Kebohongan atas Nama Nabi dan Larangan Meratapi Jenazah

    Peringatan terhadap Kebohongan atas Nama Nabi dan Larangan Meratapi Jenazah

    • Senin, 28 Oktober 2024

    Peringatan terhadap Kebohongan atas Nama Nabi dan Larangan Meratapi Jenazah Pendahuluan Kebohongan adalah perbuatan tercela yang membawa dampak buruk dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dalam ajaran Islam, kebohongan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dosa yang jauh lebih berat dibandingkan dengan kebohongan terhadap orang lain. Hal ini karena perkataan Nabi merupakan bagian […]

    Selengkapnya »
  • berbaik sangka

    Berbaik Sangka kepada Allah di Tengah Gelapnya Ujian

    • Jumat, 23 Mei 2025

    Boleh Jadi Engkau Membenci, Padahal Itu Baik Bagimu Pendahuluan Setiap dari kita pasti pernah merasakan pahitnya kenyataan yang tak sejalan dengan harapan. Gagal dalam meraih impian, kehilangan orang tercinta, musibah yang datang tanpa aba-aba, atau jalan hidup yang seolah menjauh dari rencana yang kita susun rapat. Di saat seperti itu, siapa pun bisa merasa limbung. […]

    Selengkapnya »
  • Keutamaan Ilmu Agama dalam Al-Qur’an

    Keutamaan Ilmu Agama dalam Al-Qur’an

    • Selasa, 29 Oktober 2024

    Keutamaan Ilmu Agama dalam Al-Qur’an Nasihat Penting dalam Etika Pendidikan: Untuk Guru dan Murid Bab Pertama: Tentang Keutamaan Ilmu dan Ulama serta Keutamaan Mengajarkan dan Mempelajarinya #1 Pendahuluan Artikel ini merupakan bagian pertama dari Bab Pertama kitab Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya Imam Badruddin Ibnu Jama’ah Al-Kinani Asy-Syafi’i. Dalam pembahasan […]

    Selengkapnya »