Beranda » BELAJAR ISLAM » ADAB & AKHLAK » Meminta Izin Kepada Orang Tua Dan Berpamitan Kepada Keluarga

Meminta Izin Kepada Orang Tua Dan Berpamitan Kepada Keluarga

MEMINTA IZIN KEPADA ORANG TUA

Wahai saudaraku Muslim, Allah Ta‘ālā telah menetapkan hak dan kewajiban terhadap kedua orang tua yang sangat besar dan tak bisa diabaikan. Hal ini jelas terlihat dari nasihat Rasulullah ﷺ kepada seorang lelaki yang datang memohon izin untuk ikut berjihad.

Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau ﷺ bersabda: “Berbaktilah kepada keduanya, itulah jihadmu.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)

Al-Ḥāfiẓ Ibn Ḥajar berkata:

“Hadis ini dijadikan dalil tentang haramnya bepergian tanpa izin orang tua. Sebab, jika jihad yang memiliki keutamaan sedemikian besar saja dilarang tanpa izin, maka bepergian yang mubah tentu lebih layak untuk dilarang. Namun, jika perjalanan tersebut bertujuan mempelajari ilmu yang fardu ‘ain—di mana perjalanan menjadi satu-satunya cara untuk meraihnya—maka tidak ada larangan. Adapun jika perjalanan itu untuk mempelajari ilmu fardu kifayah, maka ada perbedaan pendapat. Hadis ini juga menunjukkan keutamaan berbakti kepada orang tua, besarnya hak mereka, serta betapa melimpahnya pahala berbakti kepada mereka.”[1]

Maka, saudaraku, jagalah bakti kepada orang tua dan penuhilah hak mereka. Dengan begitu, engkau akan mendapatkan kemenangan di dunia dan akhirat, serta mencapai harapanmu.

 

MELEPAS KEBERANGKATAN MUSAFIR

Wahai saudaraku Muslim, sudah sepatutnya bagi seseorang yang hendak bepergian untuk berpamitan kepada keluarga dan saudara-saudaranya, terutama jika perjalanannya panjang.

Asy-Sya‘bī berkata: “Sunnahnya, jika seseorang pulang dari perjalanan, hendaklah saudara-saudaranya mendatanginya untuk mengucapkan salam. Sebaliknya, jika seseorang hendak pergi dalam perjalanan, hendaklah ia sendiri yang mendatangi saudara-saudaranya untuk berpamitan dan memohon doa.”

Kebiasaan ini, saudaraku, adalah bagian dari petunjuk Nabi ﷺ. Jika engkau ingin melihat contohnya, perhatikan kisah berikut:

Ibnu ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhumā pernah berkata kepada Qaza‘ah: “Kemarilah, aku akan mengucapkan selamat tinggal kepadamu sebagaimana Rasulullah ﷺ mengucapkan selamat tinggal kepadaku.” Lalu beliau membaca:

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ أَعْمَالِكَ

“Astawdi‘ullāha dīnaka wa amānataka wa khawātīma ‘amalik.”

“Aku titipkan agamamu, amanatmu, dan akhir dari amal perbuatanmu kepada Allah.”[2]

Diriwayatkan dari ʿAbdullāh al-Khaṭmī raḍiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ, apabila hendak melepas keberangkatan sebuah pasukan, beliau mengucapkan doa:

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكُمْ وَأَمَانَتَكُمْ وَخَوَاتِيمَ أَعْمَالِكُمْ

“Aku titipkan kepada Allah agama kalian, amanah kalian, dan akhir dari segala amalan kalian.”[3]

Ibn Mufliḥ menjelaskan:

“Yang dimaksud dengan ‘amanah’ dalam doa ini adalah keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan, serta harta benda yang dititipkan kepada orang yang dipercayakan dan diamanahkan. Disebutkan pula ‘agama’ bersama dengan ‘amanah’ karena perjalanan seringkali menjadi sebab seseorang lalai terhadap beberapa urusan agama. Oleh karena itu, Nabi ﷺ mendoakan agar orang yang bepergian diberikan kemudahan dan taufik dalam menjaga agamanya.” Penjelasan ini disampaikan oleh al-Khaṭṭābī dan ulama lainnya.[4]

Maka, sungguh baik, wahai saudaraku, jika seseorang menjadikan pertemuan terakhirnya dengan saudara-saudaranya sebagai momen penuh keberkahan, memohon doa dari mereka, serta menyatukan hatinya dengan hati mereka. Barangkali, saat itu, hati yang ditinggalkan akan bergumam:

Aku berkata padanya saat melepasnya pergi,

Sementara air mata duka berderai tanpa henti.

Meskipun raga kami menjauh darimu,

Namun jiwa-jiwa kami tetap menyertaimu.

Lalu dijawab oleh hati yang akan pergi:

Segala musibah yang datang menghampiri terasa ringan

Kecuali perpisahan dengan sahabat tercinta.

Footnote :

[1] Fatḥul-Bārī, (6/174).

[2] HR. Abū Dāwūd, at-Tirmiżī, dan dinyatakan ṣaḥīḥ oleh al-Albānī dalam Ṣaḥīḥ Abū Dāwūd, no. 2600.

[3] HR. Abū Dāwūd, Ṣaḥīḥ Abū Dāwūd no. 2601.

[4] Lihat al-Ādāb asy-Syarʿiyyah, (1/449).

Sumber : https://shamela.ws/book/36389

Dialihbahasakan dengan sedikit penyesuaian oleh: Hafizh Abdul Rohman, Lc

Artikel ini adalah artikel berseri, pembahasan selanjutnya bisa dilihat di sini

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • menahan dendam

    Kunci Kesabaran: Menahan Dendam dan Meyakini Pertolongan Allah

    • Kamis, 25 September 2025

    Menahan Dendam dan Meyakini Pertolongan Allah Pendahuluan Kesabaran adalah jalan panjang yang tidak selesai dalam sekali langkah. Ia ibarat tangga yang harus dinaiki setahap demi setahap, dengan setiap pijakan menghadirkan pelajaran baru. Setelah pada bagian pertama kita menyingkap lima kunci sabar dalam menghadapi gangguan manusia, kini kita berlanjut pada bagian kedua. Di sini, kita akan […]

    Selengkapnya »
  • Pandangan Para Sahabat dan Ulama Mengenai Keutamaan Ilmu

    Pandangan Para Sahabat dan Ulama Mengenai Keutamaan Ilmu

    • Selasa, 29 Oktober 2024

    Pandangan Para Sahabat dan Ulama Mengenai Keutamaan Ilmu Nasihat Penting dalam Etika Pendidikan: Untuk Guru dan Murid Bab Pertama: Tentang Keutamaan Ilmu dan Ulama serta Keutamaan Mengajarkan dan Mempelajarinya #3 Pendahuluan Artikel ini merupakan bagian ketiga dari Bab Pertama kitab Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya Imam Badruddin Ibnu Jama’ah Al-Kinani […]

    Selengkapnya »
  • merokok

    Merokok dan menggunakan shisha bagaimana hukumnya ?

    • Rabu, 6 November 2024

    Apa hukum merokok dan menggunakan shisha? Pertanyaan Apa hukum merokok dan menggunakan shisha?1 Semoga Allah membalas kebaikan Anda. Bagaimana penghasilan yang diperoleh dari penjualan rokok? Jawaban Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarga, serta para sahabatnya. Dalil Al-Qur’an dan Hadis tentang Larangan Rokok Merokok adalah perbuatan yang diharamkan karena […]

    Selengkapnya »
  • pegawai muslim

    Wahai Pegawai Muslim, Ini Pesan Untukmu

    • Senin, 25 November 2024

    PESAN TULUS UNTUK PEGAWAI MUSLIM Saudaraku, pegawai Muslim, Wahai engkau yang dipanggil untuk bekerja dengan hati yang ikhlas, cermat, dan penuh tanggung jawab. Wahai engkau yang memikul amanah untuk melayani kebutuhan dan kepentingan saudara-saudaramu.. Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh. Pekerjaan adalah jalan menuju kemuliaan, sarana mencari rezeki yang halal, dan tempat menunaikan amanah. Setiap […]

    Selengkapnya »
  • hukum mencukur jenggot

    Hukum Mencukur Jenggot Bagi Pria Muslim

    • Sabtu, 2 November 2024

      Apa hukum mencukur jenggot bagi pria muslim? Pertanyaan: Apa hukum mencukur jenggot bagi pria muslim? Apakah termasuk dosa besar? Jawaban: Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah ﷺ, keluarganya, dan para sahabatnya. Mencukur jenggot adalah haram, karena terdapat hadits-hadits shahih yang jelas mengenai hal ini serta adanya larangan untuk […]

    Selengkapnya »
  • Al-Qur’an

    Al-Qur’an Keutamaan dan Kedudukannya

    • Jumat, 28 Februari 2025

    Keutamaan Al-Quran dan Kedudukannya Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, bulan diturunkannya Al-Qur’an. Allah Ta‘ālā berfirman: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ  “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” […]

    Selengkapnya »