Beranda » Artikel Ramadan » Ramadan: Bulan Ketakwaan Dan Kebahagiaan

Ramadan: Bulan Ketakwaan Dan Kebahagiaan

Ramadan: Bulan Ketakwaan

Allah Ta‘ālā Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang telah mewasiatkan kepada hamba-hamba-Nya agar bertakwa. Dengan ketakwaan, mereka akan meraih kebahagiaan di dunia ini dan di Hari Kebangkitan. Mereka akan mendapatkan ridha-Nya, memperoleh kemenangan di negeri kemuliaan, serta selamat dari azab dan neraka-Nya. Takwa inilah wasiat-Nya bagi seluruh umat manusia, baik generasi terdahulu maupun yang datang kemudian.

Allah Ta‘ālā berfirman:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

“Dan sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kalian, dan juga kepada kalian, agar bertakwa kepada Allah.” (QS. An-Nisā’ [4]: 131)

Allah juga telah mensyariatkan puasa Ramadan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka meraih ketakwaan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Maksudnya, puasa adalah sarana untuk mencapai ketakwaan, karena di dalamnya terdapat pengendalian nafsu dan penghambatan syahwat. Oleh karena itu, ibadah puasa diwajibkan agar manusia meraih ketakwaan, bahkan ia menjadi salah satu faktor terbesar yang membantunya mencapai ketakwaan.

Ibnul Qayyim raimahullāh berkata:

“Puasa memiliki pengaruh luar biasa dalam menjaga kesehatan anggota tubuh yang tampak maupun kekuatan batin yang tersembunyi. Ia melindungi tubuh dari berbagai pencampuran zat yang dapat membawa kerusakan, serta mengeluarkan sisa-sisa zat yang buruk yang menghambat kesehatannya. Puasa menjaga kesehatan jantung dan anggota tubuh lainnya, serta mengembalikan apa yang telah direnggut oleh hawa nafsu. Ia merupakan faktor terbesar dalam membantu seseorang mencapai ketakwaan, sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa’ (QS. Al-Baqarah [2]: 183).”

(Lihat: Zād al-Ma‘ād fī Hadyi Khayri al-‘Ibād, bab “Hady Nabi dalam Puasa”, hlm. 201).

Puasa sebagai Sarana Mencapai Ketakwaan

Syaikh ‘Abdur-Ramān as-Sa‘dī raimahullāh menjelaskan dalam tafsirnya mengenai firman Allah:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Beliau berkata:

“Sesungguhnya puasa adalah salah satu sarana terbesar dalam meraih ketakwaan, karena di dalamnya terdapat ketaatan kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Adapun beberapa aspek ketakwaan yang terkandung dalam ibadah puasa adalah sebagai berikut:

    1. Seorang yang berpuasa meninggalkan segala yang diharamkan oleh Allah, seperti makan, minum, dan hubungan suami istri, serta hal-hal lainnya yang disenangi oleh dirinya, semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan pahala dari-Nya. Ini merupakan bagian dari ketakwaan.

    2. Puasa melatih seseorang untuk selalu merasa diawasi oleh Allah Ta‘ālā. Ia meninggalkan apa yang diinginkan oleh hawa nafsunya meskipun ia mampu melakukannya, karena ia sadar bahwa Allah senantiasa melihatnya.

    3. Puasa mempersempit jalur masuk setan dalam diri manusia. Setan mengalir dalam tubuh anak Adam sebagaimana aliran darah. Dengan berpuasa, pengaruhnya akan melemah, dan jumlah kemaksiatan pun akan berkurang.

    4. Orang yang berpuasa pada umumnya semakin banyak melakukan ketaatan, sedangkan ketaatan merupakan salah satu ciri utama dari ketakwaan.

    5. Puasa menumbuhkan rasa empati dalam diri orang yang mampu, karena saat ia merasakan lapar, ia akan lebih memahami penderitaan orang-orang fakir yang tidak memiliki makanan. Hal ini mendorongnya untuk berbagi dan membantu mereka, yang juga merupakan bagian dari ketakwaan.”

Makna Ketakwaan dan Urgensinya

Ketakwaan kepada Allah berarti menaati-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Secara bahasa, takwa berarti seseorang menjadikan penghalang (wiqāyah) antara dirinya dan sesuatu yang ia takuti. Maka, ketakwaan seorang hamba kepada Rabb-nya adalah dengan menjadikan penghalang antara dirinya dan murka serta azab Allah, yakni dengan menaati-Nya dan menjauhi maksiat kepada-Nya.

Allah ‘Azza wa Jalla terkadang memerintahkan hamba-Nya untuk bertakwa kepada-Nya, karena Dialah yang pantas untuk ditakuti dan diharapkan. Segala kebaikan yang diperoleh hamba berasal dari-Nya.

Terkadang, Allah memerintahkan agar manusia bertakwa dengan menjauhi neraka, yang menjadi tempat kembali bagi mereka yang menentang ketakwaan dan lebih memilih mengikuti hawa nafsunya. Allah Ta‘ālā berfirman:

فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Maka peliharalah diri kalian dari neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 24)

Juga firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tarīm [66]: 6)

Terkadang, Allah juga memerintahkan agar manusia bertakwa dengan mengingat hari kiamat, yaitu hari perhitungan, pembalasan, kebahagiaan bagi orang yang bertakwa, dan kesengsaraan bagi orang-orang yang menyimpang dari jalan ketakwaan. Allah Ta‘ālā berfirman:

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Dan peliharalah diri kalian dari (azab pada) hari ketika kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap jiwa akan diberi balasan yang sempurna atas apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak akan dizalimi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 281)

Ketakwaan dalam Wasiat Rasulullah dan Para Salaf

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam senantiasa mewasiatkan kepada para sahabatnya agar bertakwa kepada Allah. Setiap kali beliau mengirim pasukan, beliau memberikan wasiat khusus kepada pemimpinnya agar bertakwa kepada Allah dan berbuat baik kepada pasukannya. Ketika beliau berkhutbah pada hari penyembelihan dalam Haji Wada‘, beliau juga mewasiatkan kepada umatnya untuk bertakwa kepada Allah. Hal ini menunjukkan betapa besar kebutuhan manusia terhadap ketakwaan dan betapa agung manfaatnya bagi kehidupan mereka.

Para salafus shalih sangat memperhatikan ketakwaan, berusaha mewujudkannya dalam diri mereka, serta menjelaskan makna dan hakikatnya. Mereka juga saling menasihati dalam hal ketakwaan.

Ibn ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā berkata:

“Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang takut akan hukuman Allah jika meninggalkan petunjuk yang telah mereka ketahui. Mereka juga berharap rahmat-Nya dengan membenarkan ajaran yang dibawa Rasul.”

Al-asan al-Bashrī raimahullāh berkata:

“Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menjauhi segala yang diharamkan Allah atas mereka dan melaksanakan segala yang diwajibkan atas mereka.”

Umar bin ‘Abdil-‘Azīz raimahullāh berkata:

“Takwa bukan hanya dengan puasa di siang hari atau shalat malam, lalu bercampur dengan maksiat di antara keduanya. Tetapi takwa adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan menunaikan segala yang diwajibkan-Nya.”

Ibnu Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu dalam menafsirkan firman Allah:

اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

“Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 102)

Beliau berkata:

“Takwa adalah menaati Allah tanpa bermaksiat kepada-Nya, mengingat-Nya tanpa melupakan-Nya, dan bersyukur kepada-Nya tanpa mengingkari nikmat-Nya.”

alq bin abīb raimahullāh berkata:

التَّقْوَى أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ تَرْجُو ثَوَابَ اللهِ، وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ تَخَافُ عِقَابَ الله

“Takwa adalah engkau beramal dengan ketaatan kepada Allah, di atas cahaya dari-Nya, dengan mengharap pahala-Nya. Dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah, di atas cahaya dari-Nya, karena takut akan hukuman-Nya.”

Ibn Rajab raimahullāh mengutip perkataan-perkataan salaf ini dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-ikam (hadis ke-18, hlm. 296-297).

Ketika seseorang berkata kepada ‘Umar bin al-Khaṭṭāb radhiyallāhu ‘anhu: “Bertakwalah kepada Allah!” Maka beliau menjawab:

“Tidak ada kebaikan pada kalian jika kalian tidak mengucapkannya, dan tidak ada kebaikan pada kami jika kami tidak menerimanya.”

Ketakwaan Berada di Dalam Hati

Ketakwaan bersemayam dalam hati. Dalam Shaī Muslim, dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, disebutkan dalam hadis panjang bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ketakwaan itu ada di sini” (sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali). (HR. Muslim no. 2564)

Ibn Rajab raimahullāh berkata:

“Karena asal ketakwaan berada di dalam hati, maka tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui hakikatnya kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.’ (HR. Muslim no. 2564)

Dalam riwayat lain disebutkan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad kalian dan tidak pula kepada rupa kalian.’ (HR. Muslim no. 2564)

Maka, bisa saja seseorang yang memiliki wajah tampan, harta melimpah, kedudukan tinggi, atau kekuasaan duniawi, namun hatinya kosong dari ketakwaan. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki semua itu bisa jadi hatinya penuh dengan ketakwaan, sehingga lebih mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan, hal ini sering kali lebih banyak terjadi.”

(Ibn Rajab raimahullāh, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-ikam, hadis ke-35, hlm. 626).

Buah Ketakwaan di Dunia dan Akhirat

Ketakwaan memiliki banyak manfaat dan hasil yang akan dinikmati oleh orang-orang bertakwa, baik di dunia maupun di akhirat.

Buah Ketakwaan di Dunia

  1. Mendapatkan Ilmu yang Bermanfaat

Allah Ta‘ālā berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

“Bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarkan kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 282)

إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا

“Jika kalian bertakwa kepada Allah, Dia akan memberikan kepada kalian furqān (kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah).” (QS. Al-Anfāl [8]: 29)

  1. Diberikan Jalan Keluar dari Kesulitan dan Rezeki yang Tidak Terduga

Allah Ta‘ālā berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا 2 وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Aalāq [65]: 2-3)

  1. Mendapatkan Cinta, Pertolongan, dan Ampunan dari Allah

Allah Ta‘ālā berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah [9]: 4)

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 194)

وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfāl [8]: 69)

وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (QS. Al-Baqarah [2]: 189)

Buah Ketakwaan di Akhirat

    1. Masuk ke Surga dan Mendapatkan Derajat yang Tinggi

Allah Ta‘ālā berfirman:

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Rabb mereka terdapat surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Qalam [68]: 34)

وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Dan orang-orang yang bertakwa berada di atas mereka (orang kafir) pada hari Kiamat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 212)

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A‘rāf [7]: 128)

    1. Menjadi Orang yang Diberikan Keistimewaan Bertemu dengan Allah dan Melihat-Nya pada hari Kiamat

Allah Ta‘ālā berfirman:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ 54 فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan sungai-sungai. Di tempat duduk yang penuh kebenaran, di sisi Raja yang Maha Kuasa.” (QS. Al-Qamar [54]: 54-55)

Kita memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah, Rabb ‘Arsy yang agung, agar menghiasi hati kita dengan ketakwaan dan menjadikannya sebagai bekal di dunia dan pada hari perjumpaan dengan-Nya.

Sumber: Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin bin Hamad Al-Badr, Maqālāt Ramadhāniyyah, رَمَضَانُ شَهْرُ التَّقْوَى, https://www.al-badr.net/muqolat/2515, Diakses pada 22 Sya’ban 1446 H/ 21 Februari 2025)

Dialihbahasakan dengan sedikit penyesuaian oleh: Hafizh Abdul Rohman, Lc

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • Konflik Rumah Tangga

    Konflik Rumah Tangga Dan Solusi Islami Untuk Menghadapinya

    • Senin, 11 November 2024

    Solusi Islami Untuk Menghadapi Konflik Dalam Rumah Tangga Pendahuluan Segala puji bagi Allah, yang menciptakan alam semesta dan menyempurnakan setiap ciptaan-Nya. Dia yang menetapkan takdir, memberi petunjuk, dan menjadi satu-satunya yang layak dipuja, baik di dunia maupun di akhirat. Aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang benar selain Allah, yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. […]

    Selengkapnya »
  • Вавада ставки для повышения шансов на выигрыш

    Вавада ставки для повышения шансов на выигрыш

    • Selasa, 12 September 2023

    Как использовать ставки Вавада для выигрыша Тщательный анализ доступных акций и условий поможет увеличить шансы на успех. Обратите внимание на бонусные предложения, которые часто включают бесплатные ставки или удвоение первого депозита. Такие акции могут служить отличным стартом, позволяя протестировать различные варианты и найти оптимальные игры для личной стратегии. Регулярное изучение правил и особенностей различных игр […]

    Selengkapnya »
  • memahami alquran

    Pentingnya Memahami dan Mengamalkan Al-Qur’an

    • Jumat, 28 Februari 2025

    Pentingnya Memahami dan Mengamalkan Al-Qur’an Allah Ta‘ālā berfirman: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah [02]: 185) Allah Ta‘ālā juga berfirman: كِتَابٌ […]

    Selengkapnya »
  • menguatkan hati

    Menguatkan Hati untuk Kemungkinan Terburuk

    • Rabu, 14 Mei 2025

    Menguatkan Hati untuk Kemungkinan Terburuk Pendahuluan Setiap manusia pasti pernah merasakan ketakutan, kegelisahan, atau kecemasan yang datang tiba-tiba, seolah hidupnya mendadak digulung badai tak berujung. Ketika cobaan datang, banyak hati yang goyah, banyak jiwa yang terasa berat, seakan-akan dunia menyempit dan harapan perlahan meredup. Namun, Islam mengajarkan cara untuk menghadapi situasi ini dengan hati yang […]

    Selengkapnya »
  • amanah

    Amanah dalam Islam: Makna, Keutamaan, dan Wujud Nyatanya

    • Minggu, 13 Juli 2025

    الْأَمَانَةُ (Amanah) A. Pengertian Amanah 1. Secara Bahasa Secara bahasa, al-amānah (الأَمَانَةُ) berasal dari kata al-amn (الأَمْنُ) yang berarti rasa aman dan tenteram. Kata ini bisa digunakan untuk menunjukkan keadaan yang tenang tanpa rasa takut, atau sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang untuk dijaga dan dipelihara. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman: وَخَانُوا أَمَانَاتِهِمْ “…dan mereka mengkhianati […]

    Selengkapnya »
  • menyampaikan hadits palsu

    Menyampaikan Hadits Palsu Dan Ancaman Bagi Pelakunya

    • Kamis, 31 Oktober 2024

    Ancaman Menyampaikan Hadits Palsu Pendahuluan Menyampaikan hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tanggung jawab besar yang memerlukan kehati-hatian dan kejujuran. Setiap hadits Nabi memiliki dampak dalam pembentukan pemahaman umat terhadap ajaran Islam. Oleh karena itu, menukil atau menyampaikan hadits yang diketahui atau diduga sebagai hadits palsu atau tidak benar adalah perbuatan yang sangat […]

    Selengkapnya »