Beranda » BELAJAR ISLAM » 10 Kaidah Tazkiyah Nafs » Al-Qur’an adalah Sumber dan Sarana Penyucian Jiwa

Al-Qur’an adalah Sumber dan Sarana Penyucian Jiwa

Al-Qur’an adalah Sumber dan Sarana Penyucian Jiwa

Allah Ta‘ālā berfirman,

﴾لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ﴿

“Sungguh, Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.” (QS. Āli ‘Imrān: 164)

Di antara sarana terbesar yang dapat menyucikan jiwa adalah Al-Qur’an yang mulia. Al-Qur’an adalah kitab yang menjadi sumber penyucian jiwa, sekaligus penolong dan pembimbingnya. Barang siapa yang menginginkan jiwanya menjadi suci, hendaklah ia mencarinya dalam kitab Allah ﷻ.

Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhu berkata, “Allah menjamin bagi siapa yang mengikuti Al-Qur’an, bahwa ia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat,” lalu ia membaca firman Allah Ta‘ālā:

﴾فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ﴿

“Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thāhā: 123)1

Allah Ta‘ālā juga berfirman,

﴾يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ﴿

“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian pelajaran dari Tuhan kalian, penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yūnus: 57).

Ibnu al-Qayyim raḥimahullāh berkata,

القُرْآنُ هُوَ الشِّفَاءُ التَّامُّ مِنْ جَمِيعِ الأَدْوَاءِ القَلْبِيَّةِ وَالْبَدَنِيَّةِ، وَأَدْوَاءِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Al-Qur’an adalah penyembuh yang sempurna dari segala penyakit hati dan jasmani, serta penyakit dunia dan akhirat.”2

Allah Ta‘ālā juga berfirman,

﴾ٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ يَتۡلُونَهُۥ حَقَّ تِلَاوَتِهِۦٓ أُوْلَٰٓئِكَ يُؤۡمِنُونَ بِهِۦۗ﴿

“Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepada mereka, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenar-benarnya. Mereka itulah orang-orang yang beriman kepadanya.” (QS. Al-Baqarah: 121).

Membaca Al-Qur’an dengan hakikat tilawah yang sebenarnya mencakup: membaca, menghafal, memahami, merenungi, serta mengamalkan isinya, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh para sahabat dan tabiin.

Ibnu Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu berkata,

كانَ الرَّجُلُ مِنَّا إذا تَعَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ، لم يُجَاوِزْهُنَّ حتى يَعْرِفَ مَعَانِيَهُنَّ، وَالعَمَلَ بِهِنَّ

“Dulu, ketika seseorang di antara kami mempelajari sepuluh ayat Al-Qur’an, ia tidak akan melanjutkannya sebelum memahami maknanya dan mengamalkannya.”3

Membaca Al-Qur’an tanpa memahami maknanya atau tanpa mengamalkan isinya, bukanlah bacaan yang hakiki. Oleh karena itu, Al-Fudhail bin ‘Iyādh raḥimahullāh berkata,

إِنَّمَا نَزَلَ القُرْآنُ لِيُعْمَلَ بِهِ، فَاتَّخَذَ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ عَمَلًا

“Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, tetapi orang-orang menjadikannya sebatas bacaan belaka.”4

Apabila Allah ﷻ memuliakan seorang hamba dengan anugerah membaca Al-Qur’an, merenungi isinya, serta bersungguh-sungguh mengamalkannya, maka ia akan meraih bagian terbesar dari penyucian jiwa.

Sumber: Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin bin Hamad Al-Badr, ‘Asyru Qawā‘ida fī Tazkiyati an-Nafs, https://www.al-badr.net/ebook/183, Diakses pada 02 Ramadhan 1446 H/ 02 Maret 2025)

Dialihbahasakan oleh: Hafizh Abdul Rohman, Lc

Footnote:

1 Diriwayatkan oleh Ath-Thabarī dalam Jāmi‘ al-Bayān (1/74)

2 Zād al-Ma‘ād (4/119)

3 Diriwayatkan oleh Imam Aḥmad dalam al-Musnad, no. 23482

4 Diriwayatkan oleh al-Ājurrī dalam Akhlaq Ḥamalat al-Qur’ān, hal. 41

Ini adalah artikel berseri, untuk artikel selanjutnya jika sudah diposting bisa buka di link ini

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • kebahagiaan

    Kebahagiaan Selalu Bersanding dengan Hidayah

    • Senin, 5 Mei 2025

    Kebahagiaan Selalu Bersanding dengan Hidayah Dalam kehidupan manusia, terbentang dua jalan yang saling bertolak belakang: jalan hidayah yang mengantarkan kepada kebahagiaan, dan jalan kesesatan yang membawa kepada kesengsaraan. Setiap manusia pasti akan memilih salah satu di antara keduanya, dan dari pilihan itulah akan lahir nasib yang tak bisa dihindari. Barang siapa menempuh jalan hidayah, maka […]

    Selengkapnya »
  • sabar dan maaf

    Kunci Kesabaran: Sabar dan Maaf sebagai Jalan Kemuliaan Sejati

    • Jumat, 26 September 2025

    Balas Dendam Membawa kepada Kezaliman, Memaafkan adalah Senjata Terkuat terhadap Lawan Pendahuluan Sabar adalah perjalanan panjang yang menuntut keteguhan hati. Dari bagian pertama hingga ketiga, kita telah menyingkap berbagai kunci yang menguatkan seorang mukmin ketika berhadapan dengan gangguan manusia. Kini, pada bagian keempat sekaligus terakhir, kita akan melihat lima kunci pamungkas yang menyempurnakan seluruh rangkaian […]

    Selengkapnya »
  • tahun baru masehi

    Tahun Baru Masehi: Bolehkah Seorang Muslim Merayakannya?

    • Rabu, 1 Januari 2025

    Tahun Baru Masehi: Bolehkah Seorang Muslim Merayakannya? Segala puji hanya milik Allah, yang telah menyempurnakan agama ini untuk hamba-hamba-Nya. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, pemimpin para nabi, yang membawa cahaya Islam kepada seluruh umat manusia. Amma ba‘du: Malam Tahun Baru Masehi mengetuk pintu hati banyak Muslim, membisikkan ilusi kebahagiaan yang […]

    Selengkapnya »
  • Bahaya Dosa

    Bahaya Dosa: Ketika Hati Mati Tanpa Disadari

    • Minggu, 4 Mei 2025

    Menjauhi Dosa: Renungan tentang Bahaya yang Sering Diabaikan Pendahuluan Di tengah derasnya arus zaman, ketika manusia berlomba mengejar kenyamanan dan ketenaran yang fana, ada satu perkara yang luput dari perhatian, meski bahayanya jauh lebih halus dan lebih menghancurkan dari sekadar kelaparan atau racun. Ia tidak berisik, tidak menyala terang, tapi perlahan mengikis kehidupan batin manusia. […]

    Selengkapnya »
  • menabuh rebana

    Menabuh Rebana Bagaimana Hukumnya Menurut Islam

    • Selasa, 5 November 2024

    Hukum Menabuh Rebana Menurut Islam Alat Musik yang Dikecualikan (Diperbolehkan oleh Syari’at) Terdapat pengecualian dalam hal penggunaan duff (rebana tanpa gelang kaki yang berbunyi ketika dipakai) yang diperbolehkan untuk perempuan pada acara pernikahan dan hari raya, sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil yang sahih. Syaikh al-Islām raḥimahullāh berkata, “Namun, Rasūlullāh ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan keringanan untuk […]

    Selengkapnya »
  • arrahman dan arrahim

    Makna Nama Allah: Ar-Raḥman dan Ar-Raḥim

    • Minggu, 25 Mei 2025

    Makna Nama Allah: Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm Ar-Raḥmān (ٱلرَّحْمَٰنُ) dan Ar-Raḥīm (ٱلرَّحِيمُ) adalah dua nama Allah yang agung dan sangat sering disebut dalam Al-Qur’an. Keduanya berasal dari kata rahmah (رَحْمَة) yang berarti kasih sayang, tetapi masing-masing memiliki cakupan dan bentuk yang berbeda. Nama Ar-Raḥmān dalam Al-Qur’an Nama Ar-Raḥmān disebut dalam banyak ayat Al-Qur’an, di antaranya: ٱلرَّحْمَٰنُ […]

    Selengkapnya »