Beranda » BELAJAR ISLAM » 10 Kaidah Tazkiyah Nafs » Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan dan Panutan

Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan dan Panutan

Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan dan Panutan

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

﴾لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا﴿

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Aḥzāb: 21)

Ibnu Katsīr raḥimahullāh berkata:

“Ayat yang mulia ini merupakan kaidah besar dalam meneladani Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam perkataan, perbuatan, dan keadaan beliau.” (Tafsīr Ibnu Katsīr, 6/322)

Al-Ḥasan al-Bashrī raḥimahullāh berkata:

“Pada masa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, sekelompok orang berkata, ‘Kami mencintai Rabb kami.’ Maka Allah Ta‘ālā menurunkan ayat ini:

﴾قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴿

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.'”(QS. Āli ‘Imrān: 31)

(Diriwayatkan oleh ath-Thabarī dalam Tafsirnya, 6/322)

Maka, mengikuti Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan menjadikannya sebagai teladan merupakan bukti kejujuran dalam mencintai Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab, mengikuti dan meneladani Nabi ‘alaihish-shalātu was-salām serta berjalan di atas manhajnya yang lurus adalah hakikat dari pensucian jiwa (tazkiyah). Dan tidak mungkin mencapai pensucian tersebut kecuali dengan apa yang dibawa oleh Rasul shallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Para pemuka kesesatan di setiap zaman menciptakan berbagai cara yang munkar, yang mereka klaim dapat menyucikan jiwa, membersihkan hati, dan mempererat hubungan dengan Allah, serta berbagai klaim lainnya. Mereka menganjurkan pengasingan diri dari jamaah, menyendiri di tempat-tempat gelap, mengulang-ulang dzikir tertentu, serta lafaz-lafaz yang telah ditentukan, yang mereka anggap dapat meningkatkan, membersihkan, dan mendidik jiwa. Semua ini hanyalah klaim-klaim batil belaka.

Al-‘Allāmah Ibn al-Qayyim raḥimahullāh berkata:

تَزْكِيَةُ النُّفُوسِ أَصْعَبُ مِنْ عِلَاجِ الْأَبْدَانِ وَأَشَدُّ، فَمَنْ زَكَّى نَفْسَهُ بِالرِّيَاضَةِ وَالْمُجَاهَدَةِ وَالخَلْوَةِ الَّتِي لَمْ يَجِئْ بِهَا الرَّسُولُ فَهُوَ كَالْمَرِيضِ الَّذِي يُعَالِجُ نَفْسَهُ بِرَأْيِهِ، وَأَيْنَ يَقَعُ رَأْيُهُ مِنْ مَعْرِفَةِ الطَّبِيبِ؟

“Menyucikan jiwa lebih sulit dan lebih berat dibanding mengobati badan. Barang siapa yang menyucikan jiwanya dengan latihan diri, mujahadah, dan pengasingan diri (khalwah) yang tidak diajarkan oleh Rasul, maka ia ibarat orang sakit yang mengobati dirinya sendiri berdasarkan pemikirannya sendiri. Dan bagaimana mungkin pendapatnya bisa dibandingkan dengan pengetahuan seorang tabib?!”

فَالرُّسُلُ أَطِبَّاءُ القُلُوبِ، فَلَا سَبِيلَ إِلَى تَزْكِيَتِهَا وَصَلَاحِهَا إِلَّا مِنْ طَرِيقِهِمْ، وَعَلَى أَيْدِيهِمْ، وَبِمَحْضِ الِانْقِيَادِ وَالتَّسْلِيمِ لَهُمْ، وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Para rasul adalah dokter hati. Tidak ada jalan untuk menyucikan dan memperbaiki hati kecuali melalui jalan mereka, di bawah bimbingan mereka, serta dengan sikap tunduk dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada mereka. Wallāhul-musta‘ān. (Madarij as-Sālikīn, 2/300)

Selain itu, semua amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam akan tertolak dari pelakunya, sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim dalam Shaḥīḥ-nya, no. 1788).

Al-Imām Sufyān bin ‘Uyaynah raḥimahullāh berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الْمِيزَانُ الْأَكْبَرُ، فَعَلَيْهِ تُعْرَضُ الْأَشْيَاءُ: عَلَى خُلُقِهِ، وَسِيرَتِهِ، وَهَدْيِهِ، فَمَا وَافَقَهَا فَهُوَ الْحَقُّ، وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ الْبَاطِل.

“Sesungguhnya Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah timbangan terbesar, maka segala sesuatu harus diukur berdasarkan akhlaknya, perjalanan hidupnya, dan petunjuknya. Apa yang sesuai dengannya maka itu adalah kebenaran, dan apa yang bertentangan dengannya maka itu adalah kebatilan.”

(Diriwayatkan oleh al-Khaṭīb dalam Muqaddimah Kitāb al-Jāmi‘ li Akhlāq ar-Rāwī wa Ādāb as-Sāmi‘, 1/79).

Oleh karena itu, barang siapa yang ingin menyucikan jiwanya, wajib baginya untuk berjuang dalam meniti jalan ittibā‘ (mengikuti sunnah), meneladani Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam, serta berhati-hati dari perkara-perkara baru yang diada-adakan (muhdatsāt), amalan-amalan yang dibuat-buat (mukhtara‘āt), serta metode-metode bid‘ah yang diklaim oleh para pengusungnya sebagai cara untuk menyucikan jiwa.

Sumber: Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin bin Hamad Al-Badr, ‘Asyru Qawā‘ida fī Tazkiyati an-Nafs, https://www.al-badr.net/ebook/183, Diakses pada 02 Ramadhan 1446 H/ 02 Maret 2025)

Dialihbahasakan oleh: Hafizh Abdul Rohman, Lc

Ini adalah artikel berseri, untuk artikel selanjutnya jika sudah diposting bisa buka di link ini

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • rokok vape

    Rokok Elektronik (Vape) Bagaimanakah Hukumnya?

    • Kamis, 15 Mei 2025

    Rokok elektronik (Vape) Haram: Bahaya Tersembunyi yang Mengintai Kesehatan dan Iman Pendahuluan Rokok elektronik, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Vape, sering kali dipromosikan sebagai alternatif yang lebih aman daripada rokok konvensional. Namun, benarkah demikian? Faktanya, berbagai penelitian medis menunjukkan bahwa rokok elektronik justru mengandung banyak bahaya tersembunyi yang tidak kalah berisiko bagi kesehatan tubuh. […]

    Selengkapnya »
  • memaafkan

    Memaafkan Bukan Lemah, Tapi Tanda Kematangan Iman

    • Senin, 5 Mei 2025

    Tiga Pilar Akhlak Qur’ani: Memaafkan, Menyeru, dan Menahan Diri Pendahuluan Di tengah kehidupan yang penuh perbedaan dan ragam watak manusia, tak ada yang lebih dibutuhkan selain kelapangan hati dan kehalusan akhlak. Manusia bukan hanya makhluk yang berpikir, tetapi juga yang berinteraksi, dan dalam setiap pertemuan, ada peluang untuk memberi atau menyakiti, menguatkan atau menjatuhkan. Namun, […]

    Selengkapnya »
  • obat terbaik

    Obat Terbaik untuk Gangguan Emosional dan Penyakit Fisik

    • Rabu, 14 Mei 2025

    Obat Terbaik untuk Gangguan Emosional dan Penyakit Fisik Pendahuluan Hidup ini penuh dengan ujian, baik yang datang dari luar maupun dari dalam diri kita sendiri. Salah satu ujian terberat adalah ketika hati dan pikiran kita dikuasai oleh kecemasan, ketakutan, dan bayangan negatif yang seolah terus menghantui. Pikiran-pikiran ini bisa datang tanpa sebab yang jelas, menyerang […]

    Selengkapnya »
  • Pendapat Para Ulama Tentang Nyanyian dan Musik

    Pendapat Para Ulama Tentang Nyanyian dan Musik

    • Selasa, 5 November 2024

    Pendapat Para Ulama Tentang Nyanyian dan Musik Imam ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz raḥimahullāh berkata: “Nyanyian itu berasal dari setan dan akhirnya mengundang murka ar-Raḥmān” (Ghiżā’ al-Albāb). Kesepakatan mengenai keharaman mendengarkan musik dan alat-alat musik telah disampaikan oleh banyak ulama, di antaranya adalah Imam al-Qurṭubī, Ibn aṣ-Ṣalāḥ, dan Ibn Rajab al-Ḥanbalī. Imam Abū al-‘Abbās al-Qurṭubī berkata, […]

    Selengkapnya »
  • kelembutan

    Kelembutan dalam Menyikapi Kesalahan Sesama: Menapaki Jejak Akhlak Nabi

    • Selasa, 6 Mei 2025

    Melembutkan Hati kepada Sesama Mukmin: Jalan Nabi dalam Menghadapi Dosa dan Kesalahan Pendahuluan Dalam perjalanan iman, tidak semua manusia berjalan dengan langkah yang lurus dan mantap. Ada yang terjatuh dalam dosa, ada yang tersandung oleh kelemahan. Namun, justru di titik-titik inilah kematangan akhlak seorang mukmin diuji. Bukan pada saat menuntut kebenaran dengan suara lantang, tapi […]

    Selengkapnya »
  • sabar dan maaf

    Kunci Kesabaran: Sabar dan Maaf sebagai Jalan Kemuliaan Sejati

    • Jumat, 26 September 2025

    Balas Dendam Membawa kepada Kezaliman, Memaafkan adalah Senjata Terkuat terhadap Lawan Pendahuluan Sabar adalah perjalanan panjang yang menuntut keteguhan hati. Dari bagian pertama hingga ketiga, kita telah menyingkap berbagai kunci yang menguatkan seorang mukmin ketika berhadapan dengan gangguan manusia. Kini, pada bagian keempat sekaligus terakhir, kita akan melihat lima kunci pamungkas yang menyempurnakan seluruh rangkaian […]

    Selengkapnya »