Beranda » BELAJAR ISLAM » Hadits Pengharaman Musik dan Nyanyian

Hadits Pengharaman Musik dan Nyanyian

Dalil Pengharaman Musik dan Nyanyian dalam Hadits

Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ، وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ، يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ، يَأْتِيهِمْ لِحَاجَةٍ، فَيَقُولُونَ: ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا، فَيَبِيتُهُمُ اللَّهُ، وَيَضَعُ الْعِلْمَ، وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Sungguh, akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamr, dan alat musik. Akan ada beberapa kaum yang turun di dekat suatu gunung, sore hari mereka beristirahat dengan ternak mereka, lalu seseorang datang kepada mereka dengan suatu keperluan, namun mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami besok.’ Maka Allah akan menghancurkan mereka pada malam hari, meruntuhkan gunung itu, dan mengubah sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari kiamat.”

(Diriwayatkan oleh al-Bukhārī secara ta‘liq dengan nomor 5590, juga diriwayatkan oleh aṭ-Ṭabarānī dan al-Baihaqī. Lihat As-Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥah oleh al-Albānī, no. 91).

Para ulama besar telah mengakui keshahihan hadis ini, di antaranya adalah Imam Ibn Ḥibbān, al-Ismā‘īlī, Ibn aṣ-Ṣalāḥ, Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Syaikhul Islām Ibn Taymiyyah, aṭ-Ṭaḥāwī, Ibn al-Qayyim, aṣ-Ṣan‘ānī, dan banyak lainnya.

Imam Ibn al-Qayyim raḥimahullāh mengatakan, “Orang yang meragukan keshahihan hadis ini seperti Ibn Ḥazm, tidaklah berhasil dalam bantahannya karena semata-mata mendukung pendapatnya yang salah tentang kebolehan musik dan nyanyian. Ia mengklaim bahwa sanad hadis ini terputus karena al-Bukhārī tidak menyambungkannya langsung.”

Sementara al-‘Allāmah Ibn aṣ-Ṣalāḥ raḥimahullāh berkata, “Tidak perlu menoleh pada penolakannya (yaitu Ibn Ḥazm) dalam hal ini… Ia keliru dari berbagai sisi… Hadis ini adalah sahih dan sanadnya bersambung sesuai syarat sahih.” (Ghiżā’ al-Albāb fī Syarḥ Manẓūmat al-Ādāb karya Imam as-Safarīnī).

Dan dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan larangan terhadap alat musik dan nyanyian dari dua sisi:

  1. Pertama, sabda Nabi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam: “mereka menghalalkan.” Ini jelas menunjukkan bahwa hal-hal yang disebutkan, termasuk alat musik, pada dasarnya dilarang dalam syariat, sehingga kaum tersebut menghalalkannya.
  2. Kedua, alat musik disebutkan bersamaan dengan hal-hal yang sudah diketahui keharamannya, yaitu zina, khamr, dan sutra. Seandainya alat musik tidak haram, tentu tidak akan disebutkan bersama hal-hal tersebut (As-Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥah karya al-Albānī 1/140-141 dengan penyesuaian).

Syaikhul Islām Ibn Taymiyyah raḥimahullāh berkata: “Hadis ini menunjukkan keharaman alat musik, dan ‘ma‘āzif’ dalam bahasa para ahli bahasa adalah semua alat yang digunakan untuk hiburan. Ini adalah nama yang mencakup seluruh alat tersebut.” (Majmū‘ al-Fatāwā).

Diriwayatkan oleh at-Tirmiżī dalam Sunannya dari Jābir raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata: “Rasūlullāh ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam pergi bersama ‘Abd ar-Raḥmān bin ‘Awf ke kebun kurma, lalu menemukan putranya, Ibrāhīm, dalam keadaan sekarat. Rasūlullāh ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam meletakkannya di pangkuannya, dan air matanya menetes. ‘Abd ar-Raḥmān bertanya, ‘Apakah engkau menangis padahal engkau melarang tangisan?’ Beliau menjawab,

إِنِّي لَمْ أَنْهَ عَنِ البُكَاءِ، وَإِنَّمَا نَهَيْتُ عَنْ صَوْتَيْنِ أَحْمَقَيْنِ فَاجِرَيْنِ: صَوْتٍ عِنْدَ نَغْمَةِ لَهْوٍ وَلَعِبٍ وَمَزَامِيرِ شَيْطَانٍ، وَصَوْتٍ عِنْدَ مُصِيبَةٍ: خَمْشِ وُجُوهٍ وَشَقِّ جُيُوبٍ وَرَنَّةٍ.

Aku tidak melarang tangisan, melainkan aku melarang dua suara yang bodoh dan penuh dosa: suara di saat kenikmatan berupa hiburan, permainan, dan tiupan setan, serta suara di saat musibah dengan mencakar wajah, merobek-robek pakaian, dan ratapan.'”

(At-Tirmiżī mengatakan bahwa hadis ini hasan, dan al-Albānī menilainya sebagai hasan dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi‘ no. 5194).

Diriwayatkan dari Rasūlullāh ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwa beliau bersabda:

صَوْتَانِ مَلْعُونَانِ، صَوْتُ مِزْمَارٍ عِنْدَ نِعْمَةٍ، وَصَوْتُ وَيْلٍ عِنْدَ مُصِيبَةٍ

“Dua suara yang terkutuk: suara tiupan seruling saat menikmati nikmat, dan suara ratapan saat terjadi musibah.” (Isnad-nya hasan, as-Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥah no. 427).

Dan dari Rasūlullāh ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bahwa beliau bersabda:

لَيَكُونَنَّ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ خَسْفٌ، وَقَذْفٌ، وَمَسْخٌ، وَذَلِكَ إِذَا شَرِبُوا الْخُمُورَ، وَاتَّخَذُوا الْقِيْنَاتِ، وَضَرَبُوا بِالْمَعَازِفِ

“Sungguh akan terjadi pada umat ini kehancuran, lontaran batu, dan perubahan bentuk. Itu akan terjadi ketika mereka meminum khamar, mengambil penyanyi perempuan, dan memainkan alat musik.”

(Ṣaḥīḥ dengan keseluruhan jalurnya, as-Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥah no. 2203).

Beliau ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى أُمَّتِي الْخَمْرَ، وَالْمَيْسِرَ، وَالْمِزْرَ، وَالْكُوبَةَ، وَالْقِنِّيْنَ، وَزَادَنِي صَلَاةَ الْوِتْرِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan bagi umatku khamar, perjudian, miras nabati, al-kūbah, dan al-qinīn, serta menambahkan shalat witir bagiku.” (Ṣaḥīḥ, Ṣaḥīḥ al-Jāmi‘ no. 1708).

Al-kūbah adalah rebana atau tambur, sedangkan al-qinīn adalah kecapi dalam bahasa Habsyi (Ghiżā’ al-Albāb).

Diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dalam Sunannya dari Nāfi‘, ia berkata:

“Saat Ibn ‘Umar mendengar suara seruling, ia menutup kedua telinganya dengan jari-jarinya, menjauh dari jalan, dan berkata kepadaku, ‘Wahai Nāfi‘, apakah engkau masih mendengar sesuatu?’ Aku menjawab, ‘Tidak!’ Maka ia pun membuka jari-jarinya dari telinganya dan berkata, ‘Aku pernah bersama Nabi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam, lalu beliau mendengar suara seperti ini, dan beliau melakukan hal yang sama.'”

(Hadits sahih, Ṣaḥīḥ Abī Dāwūd no. 4116).

Imam al-Qurṭubī memberikan komentar tentang hadits ini dengan berkata:

“Para ulama kami mengatakan, jika mereka (para sahabat) melakukan hal seperti ini terhadap suara yang masih dalam batas kewajaran, lalu bagaimana dengan nyanyian dan musik di zaman ini beserta alat musiknya?” (Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān oleh al-Qurṭubī).

Penerjemah dan Penyesuai Redaksi:

Hafizh Abdul Rohman, Lc.

Rujukan:

Ibnu Rajab as-Salafī, diakses dari http://saaid.org/Minute/m94.htm pada 02 Jumadal Awwal 1446 H/ 04 November 2024 M.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • Sarana Penyucian Jiwa

    Al-Qur’an adalah Sumber dan Sarana Penyucian Jiwa

    • Kamis, 13 Maret 2025

    Al-Qur’an adalah Sumber dan Sarana Penyucian Jiwa Allah Ta‘ālā berfirman, ﴾لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ﴿ “Sungguh, Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan […]

    Selengkapnya »
  • Вавада ставки для повышения шансов на выигрыш

    Вавада ставки для повышения шансов на выигрыш

    • Selasa, 12 September 2023

    Как использовать ставки Вавада для выигрыша Тщательный анализ доступных акций и условий поможет увеличить шансы на успех. Обратите внимание на бонусные предложения, которые часто включают бесплатные ставки или удвоение первого депозита. Такие акции могут служить отличным стартом, позволяя протестировать различные варианты и найти оптимальные игры для личной стратегии. Регулярное изучение правил и особенностей различных игр […]

    Selengkapnya »
  • Menghapus Kegundahan

    Menghapus Kegundahan dengan Berbuat Baik

    • Jumat, 9 Mei 2025

    Menghapus Kegundahan dengan Berbuat Baik Pendahuluan Dalam hidup, kesedihan, kegundahan, dan kecemasan adalah warna yang tak terhindarkan. Setiap hati yang bernyawa pasti pernah merasakannya. Namun, Islam tidak membiarkan jiwa manusia terombang-ambing dalam kegelisahan tanpa arah. Ada jalan keluar, ada obat untuk hati yang resah. Salah satunya adalah dengan berbuat baik kepada sesama. Bukan hanya sebagai […]

    Selengkapnya »
  • Pelatihan Metode Yatlunah Gelombang Kedua

    Pelatihan Metode Yatlunah Gelombang Kedua

    • Senin, 4 Mei 2026

     ☘️🍃☘️🍁☘️🍃☘️ Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah, serta shalawat dan keselamatan semoga senantiasa tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad. 📢 Pelatihan Metode Yatlunah Gelombang Kedua Apakah bapak dan ibu ingin pembelajaran Al-Qur’an di kelas menjadi lebih terarah, mudah diterapkan, dan memberikan hasil yang maksimal? Mari bergabung bersama kami dalam Pelatihan […]

    Selengkapnya »
  • kewajiban mengikuti nabi

    Kewajiban Mengikuti Nabi Muhammad sebagai Nabi Terakhir

    • Kamis, 31 Oktober 2024

    Kewajiban Mengikuti Nabi Muhammad sebagai Nabi Terakhir Pendahuluan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi terakhir dan penutup bagi seluruh nabi dan rasul. Tidak ada lagi nabi setelah beliau,maka hal ini menunjukkan kewajiban mengikuti Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus beliau untuk seluruh umat manusia. Allah memerintahkan seluruh […]

    Selengkapnya »
  • Beasiswa Gratis LPBA Sabilunnajah Ikhwan & Akhawat

    Beasiswa Gratis LPBA Sabilunnajah Ikhwan & Akhawat

    • Senin, 4 Mei 2026

    Beasiswa Gratis LPBA Sabilunnajah Ikhwan & Akhawat Tahun Ajaran 2026-2027 《Program I’dad Lughawi untuk Ikhwan & Akhawat》 Lembaga Pendidikan Bahasa Arab Sabilunnajah (LPBA-SN) adalah lembaga Ahlussunnah wal Jama‘ah bermanhaj salaf di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di bawah pengasuhan ustadz Beni Sarbeni, Lc., M.Pd. Pendaftaran dibuka: 01 Mei – 27 Juni 2026 (Pendaftaran dapat ditutup lebih […]

    Selengkapnya »