Beranda » BELAJAR ISLAM » 10 Kaidah Tazkiyah Nafs » Mengingat Kematian dan Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla

Mengingat Kematian dan Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla

Mengingat Kematian dan Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla

Allah Ta’ala berfirman:

﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ ﴿

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (Al-Hasyr: 18).

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan,” yaitu kematian.1

Kematian adalah pemisah antara kehidupan dunia yang fana dengan kehidupan akhirat yang kekal. Ia menjadi batas antara waktu untuk beramal dan waktu menerima balasan. Kematian adalah penanda akhir kesempatan untuk mengumpulkan bekal dan saatnya menerima balasan atas perbuatan. Tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat dan memohon ampunan atas dosa, begitu pula tidak ada peluang untuk menambah amal kebaikan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

﴾ وَلَيۡسَتِ ٱلتَّوۡبَةُ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّئَاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ إِنِّي تُبۡتُ ٱلۡـَٰٔنَ ﴿

“Dan tidaklah diterima tobat dari orang-orang yang melakukan kejahatan, hingga ketika kematian datang kepada salah seorang di antara mereka, ia berkata, ‘Sungguh, sekarang aku bertobat.'” (An-Nisa’: 18).

Kematian pasti akan menjemput setiap manusia tanpa ada yang dapat menghindarinya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

﴾ قُلۡ إِنَّ ٱلۡمَوۡتَ ٱلَّذِي تَفِرُّونَ مِنۡهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمۡۖ ﴿

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya, maka sesungguhnya ia pasti akan menemui kalian.'” (Al-Jumu’ah: 8).

Allah Ta’ala juga berfirman:

﴾ أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٖ مُّشَيَّدَةٖۗ ﴿

“Di mana pun kalian berada, kematian akan mendatangi kalian, meskipun kalian berada dalam benteng yang kokoh.” (An-Nisa’: 78).

Kematian juga datang secara tiba-tiba, tanpa ada seorang pun yang tahu kapan waktunya. Allah berfirman:

﴾ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَئْخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ ﴿

“Apabila ajal mereka telah tiba, maka mereka tidak dapat menunda sesaat pun dan tidak pula dapat mempercepatnya.” (Yunus: 49).

Betapa banyak orang yang keluar dari rumahnya mengendarai mobilnya, namun kembali dalam keadaan terbujur kaku di dalam kafan. Berapa banyak orang yang meminta keluarganya menyiapkan makanan untuknya, namun ia meninggal sebelum sempat menyantapnya. Berapa banyak orang yang mengenakan pakaian dan tidak ada yang membuka kancingnya kecuali orang yang memandikannya setelah kematian.

Mengingat kematian memiliki manfaat yang besar. Hati yang lalai akan tersadar, jiwa yang mati akan kembali hidup, seorang hamba akan lebih bersungguh-sungguh dalam mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kelalaian dan sikap berpaling dari ketaatan akan berkurang.

Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata:

لَوْ فَارَقَ ذِكْرُ الْمَوتِ قَلْبِي خَشِيتُ أَنْ يُفْسِدَ عَلَيَّ قَلْبِي

“Seandainya ingatan akan kematian hilang dari hatiku, sungguh aku khawatir hatiku akan rusak.”2

Seorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan selama ia selalu memikirkan keadaannya ketika berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat setelah kematiannya, serta memikirkan akhir perjalanannya setelah kematian.

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah meriwayatkan dari Ibrahim At-Taimi rahimahullah bahwa ia berkata,

“Aku membayangkan diriku berada di dalam surga, aku memakan buah-buahannya, aku meminum dari sungai-sungainya, aku memeluk bidadarinya. Kemudian aku membayangkan diriku berada di dalam neraka, aku memakan buah zaqqumnya, aku meminum nanahnya, aku tersiksa dengan rantai dan belenggunya. Lalu aku berkata kepada diriku, ‘Wahai diriku, apa yang engkau inginkan?’ Ia menjawab, ‘Aku ingin kembali ke dunia untuk beramal saleh.’ Maka aku berkata, ‘Engkau sekarang dalam masa kesempatan, maka beramallah!”3

Katakan pula kepada jiwamu:

“Wahai jiwa! Jika aku mati, siapa yang akan salat untukku setelah kematian? Siapa yang akan berpuasa untukku? Siapa yang akan bertobat atas dosa dan kelalaianku?”

 

Sumber: Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin bin Hamad Al-Badr, ‘Asyru Qawā‘ida fī Tazkiyati an-Nafs, https://www.al-badr.net/ebook/183, Diakses pada 02 Ramadhan 1446 H/ 02 Maret 2025)

Dialihbahasakan oleh: Hafizh Abdul Rohman, Lc

Footnote:

1 HR. Ibnu Majah, no. 4258, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (3/145)

2 HR. Ahmad dalam Az-Zuhd, no. 2210.

3 HR. Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs, hlm. 26.

Ini adalah artikel berseri, untuk artikel selanjutnya jika sudah diposting bisa buka di link ini

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • merokok

    Merokok dan menggunakan shisha bagaimana hukumnya ?

    • Rabu, 6 November 2024

    Apa hukum merokok dan menggunakan shisha? Pertanyaan Apa hukum merokok dan menggunakan shisha?1 Semoga Allah membalas kebaikan Anda. Bagaimana penghasilan yang diperoleh dari penjualan rokok? Jawaban Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarga, serta para sahabatnya. Dalil Al-Qur’an dan Hadis tentang Larangan Rokok Merokok adalah perbuatan yang diharamkan karena […]

    Selengkapnya »
  • lentera ramadhan

    Menjaga Lentera Ramadhan Tetap Menyala Di Dalam Hati

    • Senin, 9 Desember 2024

    Menjaga Lentera Ramadhan Tetap Menyala Di Dalam Hati Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan rahmat dari Allah subhanahu wata’ala. Namun, sayang sekali bahwa waktu Ramadhan sudah hampir berakhir. Apakah kita harus bersedih atau bahagia? Jika kesedihan itu adalah kesedihan yang menunjukkan kepada keimanan, maka itu baik dan terpuji, sebagaimana kesedihan yang dialami oleh […]

    Selengkapnya »
  • mengejek pendosa

    Mengejek Pendosa Bisa Jadi Dosa yang Lebih Berat

    • Senin, 5 Mei 2025

    Mengejek Orang yang Berdosa: Sebuah Kesalahan yang Lebih Besar Di antara bahaya tersembunyi dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah adalah merasa lebih suci daripada saudaranya. Terkadang, seseorang diuji dengan keberhasilan dalam amal, namun tidak menyadari bahwa ujian terbesar justru terletak pada rasa bangga dan keangkuhan yang lahir dari amal itu sendiri. Padahal, keselamatan manusia tidak […]

    Selengkapnya »
  • kunci kesabaran

    Kunci Kesabaran: Melihat Gangguan Sesama sebagai Jalan Menuju Kemuliaan

    • Kamis, 25 September 2025

    Menyadari Takdir Allah dan Indahnya Memaafkan Pendahuluan Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti akan bersinggungan dengan orang lain. Dan dari pertemuan itulah lahir kenyataan yang tak bisa dihindari: ada ucapan yang menyenangkan hati, tetapi ada pula sikap yang melukai perasaan. Seakan-akan kehidupan memang dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta‘ala penuh dengan ujian berupa gangguan […]

    Selengkapnya »
  • musik dan nyanyian

    Musik dan Nyanyian Bagaimanakah Hukumnya ?

    • Selasa, 5 November 2024

    Hukum Musik dan Nyanyian MUKADIMAH بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ “Wahai kaumku, bagaimana pendapat kalian jika aku berada di atas […]

    Selengkapnya »
  • Bahaya Dosa

    Bahaya Dosa: Ketika Hati Mati Tanpa Disadari

    • Minggu, 4 Mei 2025

    Menjauhi Dosa: Renungan tentang Bahaya yang Sering Diabaikan Pendahuluan Di tengah derasnya arus zaman, ketika manusia berlomba mengejar kenyamanan dan ketenaran yang fana, ada satu perkara yang luput dari perhatian, meski bahayanya jauh lebih halus dan lebih menghancurkan dari sekadar kelaparan atau racun. Ia tidak berisik, tidak menyala terang, tapi perlahan mengikis kehidupan batin manusia. […]

    Selengkapnya »