Beranda » BELAJAR ISLAM » AQIDAH » Kewajiban Mengikuti Nabi Muhammad sebagai Nabi Terakhir

Kewajiban Mengikuti Nabi Muhammad sebagai Nabi Terakhir

Kewajiban Mengikuti Nabi Muhammad sebagai Nabi Terakhir

Pendahuluan

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi terakhir dan penutup bagi seluruh nabi dan rasul. Tidak ada lagi nabi setelah beliau,maka hal ini menunjukkan kewajiban mengikuti Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus beliau untuk seluruh umat manusia. Allah memerintahkan seluruh manusia untuk beriman kepada Nabi Muhammad dan menegaskan bahwa petunjuk ada pada jalan yang ditunjukkannya. Allah berfirman:

وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan ikutilah dia agar kamu mendapat petunjuk.” (Al-A’raf: 158).

Oleh karena itu, kewajiban setiap orang, termasuk mereka yang menganut agama-agama terdahulu, adalah beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena agama beliau menghapuskan dan mengungguli semua syariat sebelumnya. Tidak ada agama yang benar setelah diutusnya Nabi Muhammad, dan setiap syariat lain telah tergantikan oleh syariat beliau.

Hadits tentang Kewajiban Mengikuti Nabi Muhammad

لَو كان فيكم موسى واتَّبعتُموه وعصَيتُموني لدخلتُمُ النَّارَ

“Jika Musa berada di tengah kalian, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkan aku, maka kalian akan masuk neraka.” (Diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir dan dinilai sanadnya layak sebagai syahid oleh Al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil, 6/35).

Penjelasan Hadits

Kedudukan Syariat Nabi Muhammad di atas Syariat Terdahulu

Hadits ini menegaskan bahwa meskipun Nabi Musa ‘alaihis salam adalah nabi yang diutus oleh Allah, namun setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, umat manusia wajib mengikuti syariat beliau. Rasulullah menjelaskan kepada para sahabat bahwa seandainya Nabi Musa berada di tengah mereka, maka mereka tetap wajib mengikuti syariat Nabi Muhammad dan bukan syariat Nabi Musa. Artinya, meskipun seorang nabi datang dengan membawa syariat sebelumnya, syariat tersebut tidak lagi berlaku bagi umat Nabi Muhammad setelah risalah beliau diturunkan.

Namun, jika ajaran dari nabi sebelumnya diajarkan kembali oleh Rasulullah, maka umat Islam diperbolehkan mengamalkannya, seperti puasa Nabi Dawud, yang dianjurkan kembali oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai puasa yang paling utama.

Ancaman bagi yang Tidak Mengikuti Nabi Muhammad

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa orang yang mengabaikan perintah beliau dan lebih memilih mengikuti syariat nabi lain, akan mendapat ancaman yang berat, yakni ancaman neraka. Hal ini menunjukkan bahwa siapa pun yang menolak untuk mengikuti Nabi Muhammad setelah diutusnya beliau, bahkan jika mereka mengikuti seorang nabi sebelumnya, tetap akan mendapatkan ancaman siksaan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan pernah menyatakan bahwa jika Nabi Musa hidup di masanya, maka Nabi Musa sendiri akan mengikuti beliau.

Jika meninggalkan ajaran Nabi karena alasan mengikuti Nabi Musa saja diancam dengan neraka, maka bagaimana dengan mereka yang membuat cara baru dalam ibadah yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad hanya karena alasan mengikuti ulama, kiai, atau ustadz? Maka ancamannya tentu lebih besar, karena tidak ada dasar dalam ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka, tidak heran jika Nabi bersabda:

مَن عَمِلَ عَمَلًا ليسَ عليه أمْرُنا فَهو رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amal itu tertolak.” (Diriwayatkan oleh Aisyah Ummul Mu’minin dalam Shahih Muslim nomor 1718).

Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya mengikuti ajaran dan tuntunan Nabi dalam beribadah. Setiap amalan yang tidak didasarkan pada ajaran Nabi dianggap tertolak, bahkan meskipun dilakukan dengan niat yang baik. Perintah ini adalah bentuk penjagaan terhadap kesucian syariat Islam, agar umat Islam tidak terjerumus dalam praktik ibadah yang tidak sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah.

Peringatan Terhadap Bahaya Meninggalkan Syariat Nabi Muhammad

Hadits ini memberikan peringatan tegas kepada umat Islam agar tidak meninggalkan syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mengikuti ajaran lain selain yang beliau bawa. Meninggalkan syariat beliau berarti menolak petunjuk dari Allah, dan akan berakibat pada ancaman yang sangat serius.

Kesimpulan

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap umat Islam wajib mengikuti ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak diperkenankan mengamalkan syariat nabi-nabi sebelumnya, kecuali jika ajaran tersebut diajarkan kembali oleh Nabi Muhammad, seperti puasa Dawud. Selain itu, setiap amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan beliau adalah tertolak, meskipun dilakukan dengan alasan mengikuti ulama, kiai, atau ustadz. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang setia mengikuti syariat beliau dan menjauhi segala hal yang bertentangan dengan ajaran beliau.

Keterangan Penyusun dan Rujukan

Disusun oleh: Hafizh Abdul Rohman, Lc.
Rujukan:

Aplikasi Al-Mausu’ah Al-Haditsiyyah, yang dapat diakses melalui tautan berikut: https://dorar.net/hadith/sharh/210013

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • Hukum Menjulurkan Pakaian meskipun tanpa kesombongan

    Hukum Menjulurkan Pakaian meskipun tanpa kesombongan

    • Sabtu, 2 November 2024

    Hukum Isbal (Menjulurkan Pakaian) Meskipun Tanpa Kesombongan Pertanyaan: Apa hukum menjulurkan pakaian (isbal) meskipun tanpa kesombongan dan tanpa maksud pamer? Jawaban: Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah ﷺ, keluarganya, dan para sahabatnya. Diharamkan menjulurkan pakaian (isbal) berdasarkan hadits dari Abu Dzar radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ثَلَاثَةٌ لَا […]

    Selengkapnya »
  • menjaga lilsan

    Menjaga Lisan untuk Kedamaian Hati dan Jiwa

    • Selasa, 23 September 2025

    Menjaga Lisan dalam Islam: Antara Ucapan Baik, Buruk, dan Meragukan Pendahuluan Pernahkah kita menyesal setelah lidah kita meluncurkan kata-kata? Sudah terlanjur keluar, tak mungkin kembali. Seandainya bisa ditarik, tentu kita ingin segera menelannya kembali. Betapa banyak hati yang hancur oleh sepatah ucapan, dan betapa banyak pula jiwa yang bangkit karena sebaris kata penuh makna. Kata-kata […]

    Selengkapnya »
  • Al-Qur’an

    Al-Qur’an Keutamaan dan Kedudukannya

    • Jumat, 28 Februari 2025

    Keutamaan Al-Quran dan Kedudukannya Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, bulan diturunkannya Al-Qur’an. Allah Ta‘ālā berfirman: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ  “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” […]

    Selengkapnya »
  • keutamaan puasa

    Keutamaan Puasa yang Luar Biasa

    • Jumat, 14 Februari 2025

    Keutamaan Puasa Puasa adalah salah satu ibadah terbaik dan bentuk ketaatan yang paling mulia. Banyak dalil yang menegaskan keutamaan dan kedudukannya yang agung. Di antara keutamaan puasa adalah bahwa Allah telah menetapkannya sebagai kewajiban bagi semua umat terdahulu. Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ […]

    Selengkapnya »
  • Mengusir Kegelisahan

    Jangan Biarkan Bayang-Bayang Masa Lalu Merampas Sinar Hari Ini

    • Senin, 12 Mei 2025

    Mengusir Kegelisahan Dengan Melupakan Masa Lalu yang Menyakitkan Pendahuluan Setiap hati memiliki rahasianya sendiri. Ada yang berdebar karena cinta, ada yang gundah karena kehilangan, ada pula yang tak pernah tenang karena dibayangi penyesalan. Tapi tidakkah kita sadar, bahwa hidup ini bukan sekadar perjalanan mundur ke masa lalu atau khayalan tentang masa depan? Ia adalah detik […]

    Selengkapnya »
  • lailatul qadar

    Menggapai Malam Lailatul Qadr: Petunjuk dari Al-Qur’an dan Hadis

    • Rabu, 19 Maret 2025

    Lailatul Qadr Keutamaan Lailatul Qadr Allah ﷻ berfirman: ﴾إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ١ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ ٢ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ ٣ أَلۡفِ شَهۡرٖ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ ٤ سَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ ٥﴿ “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadr. Dan tahukah kamu […]

    Selengkapnya »