Beranda » BELAJAR ISLAM » 10 Kaidah Tazkiyah Nafs » Tazkiyah: Membersihkan dan Menghiasi

Tazkiyah: Membersihkan dan Menghiasi

Tazkiyah: Membersihkan dan Menghiasi

Sesungguhnya hakikat tazkiyah adalah: pertama, membersihkan jiwa dengan menyucikannya dari sifat-sifat tercela, maksiat, dan dosa; kemudian setelah itu menghiasinya dengan melakukan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:

﴾خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ﴿

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mengembangkan mereka, dan berdoalah untuk mereka.” (At-Taubah: 103)

Firman-Nya تُطَهِّرُهُمْ (“kamu membersihkan mereka”) mengandung isyarat tentang takhliyah (mengosongkan) dari keburukan, yaitu menyucikan mereka dari dosa.

Sedangkan firman-Nya وَتُزَكِّيهِمْ (“dan mengembangkan mereka”) mengandung isyarat tentang taḥliyah (menghiasi) dengan kebajikan dan kebaikan. Allah mendahulukan penyucian sebelum penyempurnaan, sebagaimana takhliyah (mengosongkan) harus didahulukan sebelum taḥliyah (menghiasi).

Maka, siapa pun yang ingin menyucikan jiwanya harus terlebih dahulu meninggalkan dosa dan kemaksiatan yang merusak hati dan menghalangi cahaya hidayah serta keimanan dari dirinya.

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ

“Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan suatu dosa, maka akan timbul di hatinya satu titik hitam. Jika ia berhenti (dari dosa itu), beristighfar, dan bertaubat, maka hatinya akan kembali bersih. Namun jika ia kembali (melakukan dosa), maka titik hitam itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ar-rān yang disebut oleh Allah dalam firman-Nya:

﴾كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴿

“Sekali-kali tidak! Bahkan, hati mereka telah tertutupi oleh apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al-Muthaffifīn: 14).

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzī dalam al-Jāmi‘ no. 3334, dan dinilai ḥasan oleh al-Albānī dalam Shaḥīḥ at-Targhīb wat-Tarhīb (2/268).

Kemudian, seseorang harus bersungguh-sungguh dalam memperbanyak amal saleh yang sebelumnya ditinggalkan oleh jiwanya. Sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:

﴾وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ﴿

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Al-‘Ankabūt: 69)

Ibn Taimiyyah raḥimahullāh berkata:

“Penyucian jiwa (tazkiyah), meskipun pada asalnya berarti pertumbuhan, keberkahan, dan bertambahnya kebaikan, namun hanya bisa terwujud dengan menghilangkan keburukan. Oleh karena itu, penyucian jiwa mencakup penghilangan keburukan dan penambahan kebaikan.” (Majmū‘ al-Fatāwā, 9/97)

Syaikh as-Sa‘dī raḥimahullāh berkata mengenai firman Allah Ta‘ālā:

﴾بَلِ ٱللَّهُ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ﴿

“Sebaliknya, Allah-lah yang menyucikan siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Baqarah: 261)

“Yakni, dengan keimanan dan amal saleh; dengan meninggalkan akhlak tercela dan menghiasi diri dengan sifat-sifat yang indah.” (Tafsīr al-Karīm ar-Raḥmān, hlm. 182)

 

Sumber: Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin bin Hamad Al-Badr, ‘Asyru Qawā‘ida fī Tazkiyati an-Nafs, https://www.al-badr.net/ebook/183, Diakses pada 02 Ramadhan 1446 H/ 02 Maret 2025)

Dialihbahasakan oleh: Hafizh Abdul Rohman, Lc

Ini adalah artikel berseri, untuk artikel selanjutnya jika sudah diposting bisa buka di link ini

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • Sarana Penyucian Jiwa

    Al-Qur’an adalah Sumber dan Sarana Penyucian Jiwa

    • Kamis, 13 Maret 2025

    Al-Qur’an adalah Sumber dan Sarana Penyucian Jiwa Allah Ta‘ālā berfirman, ﴾لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ﴿ “Sungguh, Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan […]

    Selengkapnya »
  • Keutamaan Ilmu Agama dalam Al-Qur’an

    Keutamaan Ilmu Agama dalam Al-Qur’an

    • Selasa, 29 Oktober 2024

    Keutamaan Ilmu Agama dalam Al-Qur’an Nasihat Penting dalam Etika Pendidikan: Untuk Guru dan Murid Bab Pertama: Tentang Keutamaan Ilmu dan Ulama serta Keutamaan Mengajarkan dan Mempelajarinya #1 Pendahuluan Artikel ini merupakan bagian pertama dari Bab Pertama kitab Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya Imam Badruddin Ibnu Jama’ah Al-Kinani Asy-Syafi’i. Dalam pembahasan […]

    Selengkapnya »
  • ibadah puasa

    Ibadah Puasa Ramadan Adalah Salah Satu Karunia Terbesar

    • Minggu, 9 Februari 2025

    Bulan Ramadan, Karunia yang Agung Allah telah melimpahkan banyak nikmat kepada hamba-hamba-Nya, nikmat yang tak terhitung jumlahnya, sebagaimana firman-Nya: وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrāhīm: 34) Nikmat […]

    Selengkapnya »
  • keutamaan ilmu

    Syarat-syarat Penting yang Menjadikan Ilmu Memiliki Keutamaan

    • Selasa, 29 Oktober 2024

    Syarat-syarat Penting yang Menjadikan Ilmu Memiliki Keutamaan Nasihat Penting dalam Etika Pendidikan: Untuk Guru dan Murid Bab Pertama: Tentang Keutamaan Ilmu dan Ulama serta Keutamaan Mengajarkan dan Mempelajarinya #4 Pendahuluan Artikel ini merupakan bagian terakhir dari Bab Pertama kitab Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya Imam Badruddin Ibnu Jama’ah Al-Kinani Asy-Syafi’i. […]

    Selengkapnya »
  • Nasyid Tanpa Musik

    Nasyid Tanpa Musik Bagaimana Hukumnya ?

    • Selasa, 5 November 2024

    Hukum Nasyid Tanpa Musik Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat yang mulia raḍiyallāhu ‘anhum pernah mendengarkan syair, melantunkannya, serta meminta orang lain untuk melantunkan syair di hadapan mereka, baik ketika bepergian maupun di saat mereka berkumpul dan bekerja. Mereka melantunkannya baik secara individu, seperti syair-syair yang dilantunkan oleh Ḥassān bin Ṡābit, ‘Āmir bin […]

    Selengkapnya »
  • Ilmu dan Iman

    Ilmu dan Iman: Obat Bagi Jiwa yang Sakit

    • Selasa, 6 Mei 2025

    Ilmu yang Menyehatkan Jiwa Pendahuluan Di dunia yang semakin sibuk dan serba cepat, kesehatan sering kali hanya dipahami sebatas urusan fisik -makan, minum, istirahat, dan obat. Tapi jiwa manusia bukan sekadar daging dan tulang. Ia adalah ruang batin yang jika tenang, maka tubuh ikut tenang; jika ia rusak, maka seluruh hidup terasa berat. Dan bagi […]

    Selengkapnya »