Beranda » BELAJAR ISLAM » 10 Kaidah Tazkiyah Nafs » Memilih Teman Duduk dan Menyeleksi Sahabat

Memilih Teman Duduk dan Menyeleksi Sahabat

Memilih Teman Duduk dan Menyeleksi Sahabat

Allah Ta‘ālā berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Rabb mereka pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena menginginkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta mengikuti hawa nafsunya dan keadaannya pun melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28)

As-Sa‘dī raimahullāh berkata dalam tafsir ayat ini:

“Di dalamnya terdapat perintah untuk bersahabat dengan orang-orang saleh, serta bersungguh-sungguh dalam menjaga persahabatan dan pergaulan dengan mereka, meskipun mereka adalah orang-orang miskin. Sebab, di dalam persahabatan dengan mereka terdapat manfaat yang tidak terhitung.” (Tafsīr al-Karīm ar-Ramān, hlm. 547)

Rasulullah bersabda:

ٱلرَّجُلُ عَلَىٰ دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu berada di atas agama sahabat dekatnya. Maka hendaklah setiap dari kalian melihat siapa yang ia jadikan sahabat.”

(Diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dalam as-Sunan, no. 4833, dan dinilai hasan oleh al-Albānī dalam as-Silsilah ashShaīah, no. 927).

Abū Sulaimān al-Khaththābī raimahullāh berkata:

“Sabda beliau: (ٱلْمَرْءُ عَلَىٰ دِينِ خَلِيلِهِ) (Seseorang itu berada di atas agama sahabat dekatnya) maksudnya adalah: Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang yang agamanya dan amanahnya engkau ridhai. Sebab, jika engkau bersahabat dengannya, ia akan membawamu ke dalam agamanya dan madzhabnya. Maka janganlah engkau tertipu dengan agamamu dan janganlah engkau mempertaruhkan dirimu dengan bersahabat dengan orang yang tidak diridhai dalam agama dan madzhabnya.” (al-‘Uzlah, hlm. 55).

Ibnu Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu berkata:

ٱعْتَبِرُوا ٱلنَّاسَ بِأَخْدَانِهِمْ، فَإِنَّ ٱلْمَرْءَ لَا يُخَادِنُ إِلَّا مَنْ يُعْجِبُهُ

“Perhatikanlah seseorang dengan melihat siapa teman dekatnya, karena seseorang tidak akan berteman kecuali dengan orang yang ia sukai.”

(Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam al-Ibānah al-Kubrā, no. 376).

Rasulullah bersabda:

مَثَلُ جَلِيسِ ٱلصَّالِحِ وَٱلسُّوءِ كَحَامِلِ ٱلْمِسْكِ وَنَافِخِ ٱلْكِيرِ، فَحَامِلُ ٱلْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ ٱلْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu hadiah, atau engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau mencium aroma yang harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu, atau engkau akan mencium bau yang tidak sedap darinya.”

(Diriwayatkan oleh al-Bukhārī dalam Shaī-nya, no. 5534, dan Muslim dalam Shaī-nya, no. 2628, dengan lafal dari al-Bukhārī).

Al-Qādhī ‘Iyādh raimahullāh berkata dalam penjelasannya terhadap hadis ini:

“Di dalamnya terdapat perintah untuk menghindari teman-teman yang buruk, menjauhi pergaulan dengan orang-orang jahat, ahli bid‘ah, serta mereka yang suka menggunjing orang lain. Sebab, pengaruh mereka pasti akan merasuk ke dalam diri teman duduknya. Hadis ini juga mengandung anjuran untuk bergaul dengan orang-orang baik, pempelajari ilmu, adab, petunjuk yang baik, dan akhlak yang mulia dari mereka.” (Ikmāl al-Mu‘lim bi Fawā’id Muslim, 8/108).

Oleh karena itu, seorang hamba harus memilih teman duduk yang dapat membantunya dalam kebaikan, karena mereka merupakan faktor terbesar dalam pensucian dan perbaikan jiwanya. Sebaliknya, ia juga harus berhati-hati terhadap teman-teman yang buruk dan rekan-rekan yang rusak, karena mereka lebih berbahaya baginya dibandingkan penyakit gatal yang menular.

Sumber: Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin bin Hamad Al-Badr, ‘Asyru Qawā‘ida fī Tazkiyati an-Nafs, https://www.al-badr.net/ebook/183, Diakses pada 02 Ramadhan 1446 H/ 02 Maret 2025)

Dialihbahasakan oleh: Hafizh Abdul Rohman, Lc

Ini adalah artikel berseri, untuk artikel selanjutnya jika sudah diposting bisa buka di link ini

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • musik dan nyanyian

    Musik dan Nyanyian Bagaimanakah Hukumnya ?

    • Selasa, 5 November 2024

    Hukum Musik dan Nyanyian MUKADIMAH بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ “Wahai kaumku, bagaimana pendapat kalian jika aku berada di atas […]

    Selengkapnya »
  • keutamaan ilmu

    Syarat-syarat Penting yang Menjadikan Ilmu Memiliki Keutamaan

    • Selasa, 29 Oktober 2024

    Syarat-syarat Penting yang Menjadikan Ilmu Memiliki Keutamaan Nasihat Penting dalam Etika Pendidikan: Untuk Guru dan Murid Bab Pertama: Tentang Keutamaan Ilmu dan Ulama serta Keutamaan Mengajarkan dan Mempelajarinya #4 Pendahuluan Artikel ini merupakan bagian terakhir dari Bab Pertama kitab Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya Imam Badruddin Ibnu Jama’ah Al-Kinani Asy-Syafi’i. […]

    Selengkapnya »
  • Perselisihan Suami Istri

    Perselisihan Suami Istri Bagaimana Cara Mengatasinya?

    • Rabu, 13 November 2024

    Cara Mengatasi Perselisihan Suami Istri Saudara dan saudariku yang semoga dirahmati Allah, ketika tanda-tanda perselisihan mulai tampak atau ketidakharmonisan muncul dalam rumah tangga, ingatlah bahwa talak atau ancaman bukanlah solusi terbaik. Sebaliknya, dalam menghadapi masalah, kita memerlukan kesabaran, keteguhan hati, serta pemahaman bahwa setiap manusia itu berbeda—baik dalam pemikiran, karakter, maupun sifat. Sikap saling memaafkan […]

    Selengkapnya »
  • Membangun Keluarga Muslim

    Membangun Keluarga Muslim Seperti Apa Pilar-Pilarnya ?

    • Senin, 11 November 2024

    Pilar-Pilar dalam Membangun Keluarga Muslim: Sebuah Renungan Saudara-saudaraku… Apa yang membuat sebuah keluarga Muslim itu kuat? Apakah hanya cinta? Apakah hanya nafkah? Tentu tidak. Ada dasar-dasar yang lebih mendalam yang membangun kekuatan rumah tangga dan menjaga keutuhan keluarga. Inilah pilar-pilar yang jika ditegakkan dengan baik, insya Allah, akan mengokohkan hubungan suami istri dan menjauhkan keluarga […]

    Selengkapnya »
  • kewajiban rakyat

    Kewajiban Rakyat Untuk Menghormati Pemimpin Karena Allah

    • Senin, 2 Desember 2024

    “Menghormati Pemimpin karena Allah: Kewajiban Rakyat dalam Islam” Pendahuluan Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam, yang telah menurunkan Islam sebagai agama yang sempurna, mencakup segala aspek kehidupan, termasuk dalam hal kepemimpinan dan sikap rakyat terhadap pemimpin mereka. Islam mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu harus disikapi dengan ilmu. Ketika terjadi pergantian pemimpin, baik di […]

    Selengkapnya »
  • dicintai Allah

    Menjadi Hamba Yang Dicintai Allah Bagaimana Caranya ?

    • Senin, 2 Desember 2024

    Hamba yang Dicintai Allah: Siapa dan Bagaimana? Mencapai cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah impian tertinggi bagi setiap mukmin. Cinta ini merupakan sumber kebahagiaan sejati, ketenangan hati, dan kehidupan yang penuh berkah. Namun, bagaimana kita mengetahui apakah kita termasuk hamba yang dicintai Allah atau tidak? Cinta Allah adalah kedudukan mulia yang diidamkan oleh setiap hamba […]

    Selengkapnya »