Beranda » BELAJAR ISLAM » Perselisihan Suami Istri Bagaimana Cara Mengatasinya?

Perselisihan Suami Istri Bagaimana Cara Mengatasinya?

Cara Mengatasi Perselisihan Suami Istri

Saudara dan saudariku yang semoga dirahmati Allah, ketika tanda-tanda perselisihan mulai tampak atau ketidakharmonisan muncul dalam rumah tangga, ingatlah bahwa talak atau ancaman bukanlah solusi terbaik. Sebaliknya, dalam menghadapi masalah, kita memerlukan kesabaran, keteguhan hati, serta pemahaman bahwa setiap manusia itu berbeda—baik dalam pemikiran, karakter, maupun sifat.

Sikap saling memaafkan dan kemampuan untuk mengabaikan hal-hal kecil yang mengganggu sangat diperlukan. Bukankah kebaikan tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita sukai? Justru, terkadang kebaikan ada dalam hal-hal yang awalnya terasa berat di hati kita. Allah Ta‘ālā berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri) dengan cara yang baik. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisā’: 19)

Langkah Bijak dalam Mengatasi Ketidakpatuhan

Namun, jika terlihat adanya keretakan yang serius dan wanita menunjukkan sikap tidak harmonis atau ketidakpatuhan, Islam mengajarkan cara yang jelas dan bijak tanpa langsung mengarah pada perceraian. Bagaimana caranya? Allah telah memberikan panduan dalam Al-Qur’an untuk menangani situasi ini dengan langkah-langkah yang penuh hikmah, sebagaimana firman-Nya:

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا

“Dan perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan pembangkangannya, maka nasihatilah mereka, pisahkanlah mereka di tempat tidur, dan (jika perlu) pukullah mereka dengan cara yang tidak menyakiti. Tetapi jika mereka menaati kamu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.” (QS. An-Nisā’: 34)

Ayat ini menunjukkan tahapan yang diajarkan dalam Islam untuk mengatasi ketidakpatuhan, yaitu melalui nasihat yang bijaksana, kemudian berpisah sementara di tempat tidur, dan di tahap terakhir dengan tindakan yang tidak menyakitkan, dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan tanpa niat menyakiti.

Pendekatan dengan Hikmah dan Sabar

Solusi untuk masalah ini adalah dengan memberikan nasihat, pengarahan, dan penjelasan mengenai kesalahan yang terjadi, serta mengingatkan tentang hak dan kewajiban dalam rumah tangga. Bagaimana caranya? Dengan sikap yang penuh kasih, sabar, dan bijaksana. Yakinkan pasangan dengan cara yang baik, bahwa semua ini untuk kebaikan bersama, demi rumah tangga yang penuh kedamaian dan ketenteraman.

Saudaraku, mari kita renungkan bersama. Betapa indahnya ajaran Islam yang menganjurkan agar kita senantiasa bersabar dan memilih cara-cara terbaik dalam mengatasi masalah rumah tangga, sehingga ketenangan dan keharmonisan dapat kita rasakan bersama.

Cara Bijak dalam Menangani Pembangkangan dengan Hajr

Saudaraku, ada kalanya, saat terjadi ketidakpatuhan atau sikap yang kurang selaras dalam rumah tangga, diperlukan langkah hajr—yakni menjauhi pasangan di tempat tidur sebagai respons terhadap sikap tersebut. Namun, penting untuk dipahami bahwa hajr ini tidak berarti meninggalkan tempat tidur atau kamar sepenuhnya. Apa artinya? Artinya, tindakan ini tetap berada di ruang pribadi dan tidak dilakukan di hadapan anak-anak atau orang lain.

Mengapa demikian? Tujuan dari hajr bukan untuk mempermalukan atau merendahkan pasangan, tetapi sebagai bentuk penolakan yang terukur, yang bisa menumbuhkan kesadaran dalam hati pasangan. Ini adalah upaya untuk memulihkan keseimbangan serta keharmonisan dalam hubungan suami istri.

Pendekatan Tegas sebagai Langkah Terakhir

Selain itu, dalam beberapa situasi, mungkin ada kebutuhan untuk bersikap tegas. Pernahkah Anda mendengar ungkapan ini? Tidak semua orang mudah berubah hanya dengan pendekatan lembut; terkadang, orang tertentu justru membutuhkan sikap tegas agar menyadari kekeliruannya. Maka, kadang-kadang sikap tegas dan sedikit keras bisa menjadi cara yang efektif untuk menenangkan sikap keras kepala atau ketidakpatuhan yang muncul.

Tentu saja, pendekatan tegas ini tidak dilakukan sembarangan dan hanya diambil sebagai langkah terakhir. Langkah ini ditempuh ketika pembangkangan atau penyimpangan dari peran serta tugas sudah sangat jelas terlihat dan semua pendekatan lain tidak membawa perubahan.

Ketegasan sebagai Jalan untuk Memperbaiki, Bukan Memuaskan Ego

Saudaraku, mari kita renungkan ini sejenak. Setiap orang yang bijak tentu memahami bahwa ketegasan, jika mampu memulihkan keteraturan dalam rumah tangga dan mengembalikan keakraban dalam keluarga, adalah solusi yang lebih baik daripada perpisahan atau perceraian. Ketegasan yang dimaksud di sini adalah tindakan disiplin yang mendidik, bukan sekadar untuk mencari kepuasan pribadi, bukan pula untuk melampiaskan emosi.

Tujuannya satu—memperbaiki yang melenceng, menstabilkan yang goyah, dan menjaga agar rumah tangga kita tetap kokoh dan penuh kasih sayang.

Ketika Istri Merasa Khawatir Akan Sikap Suami

Saudara dan saudariku yang dirahmati Allah, adakalanya seorang istri merasakan kekhawatiran akan sikap tidak peduli atau keacuhan dari suaminya. Dalam situasi seperti ini, Islam telah memberikan arahan yang bijak. Al-Qur’an menuntun kita melalui firman Allah Ta‘ālā:

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ

“Dan jika seorang wanita khawatir suaminya akan bersikap kasar atau tidak peduli kepadanya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang baik, dan perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisā’: 128)

Ayat ini menunjukkan bahwa solusi terbaik untuk ketidakpedulian atau sikap kasar adalah melalui perdamaian dan kesepakatan, bukan melalui perpisahan atau pemutusan hubungan. Bukankah lebih indah bila pernikahan tetap terjaga? Bahkan, kadang kala perdamaian ini bisa dicapai dengan kompromi atau merelakan sebagian hak, baik hak finansial maupun hak pribadi, demi menjaga keutuhan pernikahan.

Allah mengingatkan kita:

وَالصُّلْحُ خَيْرٌ

“Perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisā’: 128)

Artinya, perdamaian lebih baik daripada perselisihan, ketegangan, atau perpisahan. Apakah kita tidak ingin mengutamakan perdamaian dalam rumah tangga kita?

Pentingnya Penengah dalam Menyelesaikan Perselisihan

Saudaraku Muslim dan saudariku Muslimah, ini adalah pengingat yang penting tentang cara memahami agama Allah dan menjalankan hukum-hukum-Nya. Lalu, bagaimana dengan kita? Mengapa sering kali kita tidak mengutamakan solusi perdamaian atau mengajak dua penengah untuk menyelesaikan perselisihan antara suami dan istri? Mengapa para pembimbing dan penggiat perbaikan keluarga terkadang lebih mudah mendukung jalan perpisahan daripada jalan damai? Apakah karena kurangnya keinginan untuk memperbaiki hubungan atau malah karena adanya dorongan untuk memecah belah keluarga?

Di tengah masyarakat, kita sering melihat sikap sembrono dan ketidakadilan, yang jauh dari rasa takut kepada Allah. Bahkan, ada yang berani mempermainkan batasan-batasan yang telah Allah tetapkan. Pernahkah kita mendengar hadits ini? Ibn Mājah dan Ibn ibbān meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

مَا بَالُ أَحَدِكُمْ يَلْعَبُ بِحُدُودِ اللهِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُم

“Mengapa salah seorang di antara kalian bermain-main dengan batasan-batasan Allah, padahal aku masih berada di tengah-tengah kalian?” (HR. Ibn Mājah dan aī Ibn ibbān)

Ini adalah peringatan keras bagi kita agar selalu menjaga batasan-batasan Allah dengan hati yang penuh rasa takut dan kesadaran akan pengawasan-Nya. Mari kita renungkan, apakah kita sudah menjalani rumah tangga dengan menjaga hukum-hukum Allah, ataukah kita masih sering mengabaikannya?

Ini adalah bagian ke-4 dari artikel berseri, dengan Judul:

Rahasia Kebahagiaan dan Kedamaian Dalam Rumah Tangga Islami

Diadaptasi oleh Hafizh Abdul Rohman, Lc.

Dari kitab al-Bayt as-Sa‘īd wa Khilāf az-Zaujain, karya āli bin umayd, yang diakses melalui Aplikasi Maktabah Syāmilah secara daring pada tautan: https://shamela.ws/book/280/28#p1

Silakan membaca bagian selanjutnya (bagian kelima) melalui tautan berikut:
https://sabilunnajah.com/mengatasi-konflik-rumah-tangga-langkah-terakhir-seperti-apa/

Komentar (2)

  • Abdullah

    Jazaakumullahu khairan atas artikelnya, mudah-mudahan semakin banyak artikel-artikel lainnya di website sabilunnajah.com

    Balas18 November 2024 10:27
    • Hafizh Abdul Rohman

      Jazakumullahu khairan atas doanya.
      Semoga Allah memberkahi Anda dan memudahkan kami untuk terus menghadirkan artikel-artikel bermanfaat di website sabilunnajah.com.
      Jangan lupa doakan kami agar tetap istiqamah.

      Balas16 May 2025 08:31

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • Iman dan Amal Shalih

    Iman dan Amal Shalih Jalan Menuju Kehidupan Bahagia

    • Kamis, 8 Mei 2025

    Iman dan Amal Shalih Jalan Menuju Kehidupan Bahagia Kebahagiaan bukanlah sekadar tawa yang menggema atau harta yang menumpuk di lemari dunia. Ia lebih dalam dari itu -ia adalah ketenangan yang mengalir dalam jiwa, rasa cukup yang tak terguncang oleh badai, dan kedamaian yang tetap bertahan meski dunia berputar tak menentu. Kebahagiaan sejati adalah hidup yang […]

    Selengkapnya »
  • Pelatihan Metode Yatlunah Gelombang Kedua

    Pelatihan Metode Yatlunah Gelombang Kedua

    • Senin, 4 Mei 2026

     ☘️🍃☘️🍁☘️🍃☘️ Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah, serta shalawat dan keselamatan semoga senantiasa tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad. 📢 Pelatihan Metode Yatlunah Gelombang Kedua Apakah bapak dan ibu ingin pembelajaran Al-Qur’an di kelas menjadi lebih terarah, mudah diterapkan, dan memberikan hasil yang maksimal? Mari bergabung bersama kami dalam Pelatihan […]

    Selengkapnya »
  • pegawai muslim

    Wahai Pegawai Muslim, Ini Pesan Untukmu

    • Senin, 25 November 2024

    PESAN TULUS UNTUK PEGAWAI MUSLIM Saudaraku, pegawai Muslim, Wahai engkau yang dipanggil untuk bekerja dengan hati yang ikhlas, cermat, dan penuh tanggung jawab. Wahai engkau yang memikul amanah untuk melayani kebutuhan dan kepentingan saudara-saudaramu.. Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh. Pekerjaan adalah jalan menuju kemuliaan, sarana mencari rezeki yang halal, dan tempat menunaikan amanah. Setiap […]

    Selengkapnya »
  • kewajiban mengikuti nabi

    Kewajiban Mengikuti Nabi Muhammad sebagai Nabi Terakhir

    • Kamis, 31 Oktober 2024

    Kewajiban Mengikuti Nabi Muhammad sebagai Nabi Terakhir Pendahuluan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi terakhir dan penutup bagi seluruh nabi dan rasul. Tidak ada lagi nabi setelah beliau,maka hal ini menunjukkan kewajiban mengikuti Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus beliau untuk seluruh umat manusia. Allah memerintahkan seluruh […]

    Selengkapnya »
  • Rasulullah sebagai Teladan

    Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan dan Panutan

    • Jumat, 14 Maret 2025

    Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan dan Panutan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ﴾لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا﴿ “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta banyak mengingat Allah.” […]

    Selengkapnya »
  • nama surat alfatihah

    Surah Al-Fatihah Memiliki Dua belas Nama

    • Jumat, 1 November 2024

    Suat Alfatihah Memiliki Dua belas Nama Pertanyaan: Apa saja nama-nama Suat Alfatihah? Jawaban: Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Imam Al-Qurthubi -semoga Allah merahmatinya- menyebutkan bahwa Surah AlFatihah memiliki dua belas nama, yaitu: 1. Ash-Shalah (Shalat), berdasarkan hadis: “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi […]

    Selengkapnya »