Beranda » BELAJAR ISLAM » Kebahagiaan Selalu Bersanding dengan Hidayah

Kebahagiaan Selalu Bersanding dengan Hidayah

Kebahagiaan Selalu Bersanding dengan Hidayah

Dalam kehidupan manusia, terbentang dua jalan yang saling bertolak belakang: jalan hidayah yang mengantarkan kepada kebahagiaan, dan jalan kesesatan yang membawa kepada kesengsaraan.

Setiap manusia pasti akan memilih salah satu di antara keduanya, dan dari pilihan itulah akan lahir nasib yang tak bisa dihindari. Barang siapa menempuh jalan hidayah, maka ia akan menemukan kebahagiaan yang sejati. Sebaliknya, barang siapa berpaling dari petunjuk Allah, maka kesengsaraan akan menjadi bagian dari perjalanannya.

Sebelum melanjutkan, berikut adalah faidah ringkas yang dibawakan oleh Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullāh, yang menjadi dasar renungan kita kali ini. Selengkapnya dapat diakses melalui tautan: https://www.al-badr.net/muqolat/8270:

Kebahagiaan Selalu Bersanding dengan Hidayah

Hidayah dan kebahagiaan adalah dua perkara yang senantiasa berjalan beriringan, tak terpisahkan satu sama lain. Sebagaimana kesesatan selalu bersandingan dengan kesengsaraan, keduanya pun tak pernah tercerai.

Di mana ada hidayah, di sana akan bersemi kebahagiaan. Dan di mana ada kesesatan, di situlah kesengsaraan bersarang.

Barang siapa yang dahulu jauh dari Allah dan dari jalan ketaatan kepada-Nya, lalu ia kembali istiqamah di atas jalan-Nya, niscaya akan merasakan kenikmatan yang sebelumnya hilang; manisnya iman yang dahulu tidak pernah ia rasakan, serta cita rasa kehidupan yang sebelumnya asing baginya.

Benarlah firman Allah:

فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ ١٢٣ وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا

“Maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thāhā: 123–124)

Mengikuti Petunjuk Allah: Jalan Menuju Kebahagiaan

Mengikuti petunjuk Allah berarti menjalani perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Siapa yang berpegang teguh kepada wahyu-Nya, maka Allah akan membimbingnya di dunia menuju jalan yang lurus, dan mengantarkannya di akhirat menuju kebahagiaan yang kekal.

Allah menegaskan dalam ayat lain:

فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut atas mereka, dan mereka tidak bersedih.” (QS. Al-Baqarah: 38)

Petunjuk Allah menuntut pembenaran atas semua berita yang datang dari-Nya tanpa ditentang oleh syubhat, dan pelaksanaan semua perintah-Nya tanpa tunduk pada hawa nafsu. Dengan mengikuti hidayah ini, seseorang dijaga dari kesesatan dan diselamatkan dari kesengsaraan.

Akibat Meninggalkan Petunjuk

Sebaliknya, Allah memperingatkan bagi siapa saja yang berpaling dari wahyu-Nya:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku…” (QS. Thāhā: 124)

Maksud dari “berpaling” adalah meninggalkan Kitab Allah yang berisi peringatan luhur, baik karena lalai ataupun karena sikap mengingkari dan mengkufuri.

Allah berfirman:

فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Maka sungguh, baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thāhā: 124)

Orang yang berpaling dari petunjuk Allah akan hidup dalam kesempitan. Hatinya gelisah, jiwanya sempit, dan kehidupannya dipenuhi dengan rasa berat dan kegundahan, meskipun secara lahiriah ia tampak memiliki kelapangan dunia. Ini merupakan bagian dari azab yang disegerakan baginya.

Kehidupan Sempit: Dunia, Barzakh, dan Akhirat

Sebagian ulama menafsirkan “kehidupan yang sempit” ini sebagai azab kubur. Di sana, kuburnya menjadi sesak, sempit, dan penuh siksaan, sebagai balasan atas berpalingnya dari peringatan Allah. Ayat ini menjadi salah satu dalil tentang adanya azab kubur, sebagaimana beberapa ayat lain menunjukkan hal yang sama, di antaranya:

Firman Allah:

وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ

“Dan sekiranya kamu melihat ketika orang-orang zalim berada dalam sakaratul maut, sedang para malaikat membentangkan tangan mereka (sambil berkata), ‘Keluarkanlah nyawamu’…” (QS. Al-An‘ām: 93)

Firman Allah:

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ

“Dan sungguh, Kami akan merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat sebelum azab yang lebih besar, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As-Sajdah: 21)

Firman Allah tentang Fir‘aun dan pengikutnya:

ٱلنَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.” (QS. Ghāfir: 46)

Sebagian ulama salaf memandang bahwa makna kehidupan yang sempit ini khusus berkaitan dengan azab kubur, karena ayat ini kemudian diikuti dengan penyebutan azab Hari Kiamat. Namun, sebagian ulama lain memahami bahwa ia mencakup penderitaan dunia berupa kegelisahan dan kesedihan, serta azab di alam barzakh dan akhirat kelak. Ini sesuai dengan sifat lafaz “kehidupan sempit” yang disebutkan tanpa batasan.

Penutup

Hidayah adalah sumber segala kebahagiaan yang sejati. Ia adalah cahaya yang menuntun langkah, ketenangan yang meresap ke dalam dada, dan keteguhan yang menjaga jiwa dari tergelincir dalam gelapnya zaman.

Barang siapa yang menjaga hidayah, ia akan merasakan ketenteraman yang tidak goyah oleh badai dunia, dan ia akan menemukan kedamaian yang terus berlanjut hingga ke negeri akhirat.

Sebaliknya, barang siapa berpaling dari cahaya Allah, hidupnya akan dipenuhi kesempitan.

Di dunia, jiwanya gelisah. Di alam kubur, ruhnya terhimpit. Dan di akhirat, kesengsaraan akan menjadi nasibnya yang kekal, kecuali bila Allah merahmati.

Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menjaga kita semua dalam hidayah-Nya, menetapkan hati kita di atas jalan-Nya yang lurus, dan mengaruniakan kepada kita kekuatan untuk selalu istiqamah hingga ajal menjemput. Āmīn.

Ditulis oleh: Hafizh Abdul Rohman, Lc

Rujukan:

Faidah-faidah Ringkas Syaikh Abdurrazzaq al-Badr, dapat diakses melalui: https://www.al-badr.net/muqolat/8270

Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, karya Abdur-Raḥmān bin Nāshir as-Sa‘dī raḥimahullāh, dapat diakses melalui: https://shamela.ws/book/42/1158

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • menghadapi musibah

    Menghadapi Musibah dengan Cahaya Iman

    • Selasa, 23 September 2025

    Cara Bijak Menghadapi Musibah Enam Renungan Iman Menurut Ibnul Qayyim Pendahuluan Hidup ini tidak selalu dipenuhi tawa. Ada saat-saat di mana manusia harus menelan pil pahit berupa musibah. Ada yang diuji dengan sakit, ada yang kehilangan orang tercinta, ada pula yang dirundung kesempitan rezeki. Tiada seorang pun yang lepas darinya, sebab musibah adalah bagian dari […]

    Selengkapnya »
  • Kunci Penyucian Jiwa

    Doa adalah Kunci Penyucian Jiwa

    • Kamis, 13 Maret 2025

    Doa adalah Kunci Penyucian Jiwa Rasulullah ﷺ bersabda: لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَىٰ مِنَ الدُّعَاءِ “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah Ta‘ālā daripada doa.”1 Doa adalah salah satu ibadah terbaik di sisi Allah ﷻ. Sebab, di dalamnya terkandung pengakuan akan kelemahan dan ketergantungan hamba kepada-Nya, perendahan diri, kerendahan hati, serta penegasan […]

    Selengkapnya »
  • Menjaga kebersamaan

    Menjaga Kebersamaan Dan Akhlak Mulia Dalam Safar

    • Kamis, 6 Februari 2025

    MENJAGA KEBERSAMAAN DAN AKHLAK MULIA DALAM SAFAR Wahai saudaraku Muslim, sesungguhnya perjalanan safar adalah momen di mana karakter seseorang benar-benar diuji. Di perjalanan, sifat-sifat mulia dan keutamaan seseorang akan terlihat jelas. Orang yang mulia akan menunjukkan keluhuran budi pekertinya dengan kebaikan dalam berteman dan kelembutan terhadap sesama, terutama kepada mereka yang bersamanya di jalan.. Diriwayatkan […]

    Selengkapnya »
  • menghindari rasa ujub

    Menghindari Rasa Ujub dan Tertipu oleh Diri Sendiri

    • Sabtu, 15 Maret 2025

    Menghindari Rasa Ujub dan Tertipu oleh Diri Sendiri Sebagaimana firman Allah Ta‘ālā: ﴾ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰ ﴿ “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa” (QS. An-Najm: 32). Allah ‘Azza wa Jalla melarang seseorang memuji dirinya sendiri dengan mengklaim kesucian dan kebaikannya, karena ketakwaan itu berada […]

    Selengkapnya »
  • kejujuran jiwa

    Kejujuran Jiwa: Kunci Perbaikan Diri dalam Cahaya Al-Qur’an

    • Jumat, 23 Mei 2025

    Jiwa Itu Mengenal Dirinya Sendiri Pembukaan: Dalam perjalanan hidup, sering kali kita sibuk melihat ke luar -menilai keadaan, mengomentari orang lain, menimbang benar atau salah menurut pandangan kita. Tapi sedikit yang mau jujur untuk melihat ke dalam, menyelami isi hatinya sendiri Al-Qur’an membimbing kita dengan sebuah kaidah agung yang mengguncang hati setiap orang yang masih […]

    Selengkapnya »
  • Bahaya Dosa

    Bahaya Dosa: Ketika Hati Mati Tanpa Disadari

    • Minggu, 4 Mei 2025

    Menjauhi Dosa: Renungan tentang Bahaya yang Sering Diabaikan Pendahuluan Di tengah derasnya arus zaman, ketika manusia berlomba mengejar kenyamanan dan ketenaran yang fana, ada satu perkara yang luput dari perhatian, meski bahayanya jauh lebih halus dan lebih menghancurkan dari sekadar kelaparan atau racun. Ia tidak berisik, tidak menyala terang, tapi perlahan mengikis kehidupan batin manusia. […]

    Selengkapnya »