Fokus pada Hari Ini:Kunci Mengusir Kegelisahan
Pendahuluan
Hidup sering kali terasa berat bukan karena beban yang ada, tapi karena pikiran kita yang terlalu jauh melangkah -terkadang mundur ke masa lalu, terkadang melesat ke masa depan. Kita menyesali yang sudah lewat dan mengkhawatirkan yang belum datang, hingga lupa bahwa hari ini adalah satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki. Tapi, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: berapa banyak energi yang terbuang sia-sia hanya karena pikiran yang tak pernah berhenti mengembara?
Islam, sebagai agama yang penuh hikmah, mengajarkan kita untuk hidup di saat ini, untuk menata langkah hari ini, dan untuk memperbaiki diri di detik ini. Sebab masa lalu adalah pelajaran, masa depan adalah harapan, tapi hari ini adalah kenyataan -tempat di mana amal kita ditanam, tempat di mana doa kita dipanjatkan, dan tempat di mana perubahan dimulai.
Memusatkan Pikiran pada Hari Ini
Pernahkah kita duduk sejenak dan bertanya pada diri sendiri: berapa banyak waktu yang terbuang hanya karena kita terlalu sibuk menyesali masa lalu atau terlalu khawatir akan masa depan? Berapa banyak momen indah yang terlewat karena pikiran kita terjebak dalam bayang-bayang yang belum tentu terjadi?
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk berlindung dari rasa sedih dan gelisah. Mengapa? Karena kesedihan biasanya tumbuh dari penyesalan atas masa lalu -sesuatu yang tak lagi bisa diubah. Sementara kecemasan, ibarat bayangan yang membesar dalam kegelapan, lahir dari ketakutan akan masa depan yang belum tentu datang. Dua hal ini, jika dibiarkan, hanya akan menggerogoti ketenangan jiwa dan mencuri kebahagiaan yang seharusnya kita rasakan hari ini.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat kikir dan pengecut, dari lilitan utang, dan dari tekanan orang lain.” (HR. Al-Bukhari).
Maka, fokuslah pada hari ini. Bangkitlah, bergeraklah, dan berikan yang terbaik pada setiap detik yang sedang kau jalani. Sebab, hari ini adalah kesempatan. Hari ini adalah medan amal. Hari ini adalah tempat di mana perubahan bisa dimulai. Jangan biarkan masa lalu mengikat langkahmu, dan jangan biarkan bayangan masa depan menghantui hatimu.
Hiduplah untuk hari ini. Curahkan tenagamu untuk memperbaiki langkahmu, untuk memperindah akhlakmu, untuk menambah amalmu. Dan kau akan melihat, betapa beratnya beban yang terangkat ketika pikiranmu terfokus pada saat ini -saat di mana kau benar-benar hidup.
Doa dan Ikhtiar sebagai Perpaduan yang Sempurna
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, ketika mengajarkan doa kepada umatnya, tidak hanya sekadar mengajak untuk pasrah dan menengadahkan tangan memohon pertolongan Allah. Tidak. Lebih dari itu, beliau mengajarkan kita untuk berusaha, untuk bergerak, untuk mengambil langkah nyata. Sebab doa tanpa usaha, seperti menunggu panen tanpa pernah menanam.
Pernahkah kita berpikir, mengapa doa dan ikhtiar selalu berjalan beriringan dalam ajaran Islam? Mengapa tidak cukup hanya berdoa dan menunggu keajaiban? Karena Islam tidak mengajarkan kepasrahan buta. Ia mengajarkan tawakkal yang dibangun di atas kerja keras.
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِذَا أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersungguh-sungguhlah untuk mengerjakan apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu, jangan katakan, ‘Andai saja aku melakukan begini pasti begini dan begitu,’ tetapi katakanlah, ‘Allah telah menetapkan, dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.’ Sebab ucapan ‘seandainya’ hanya akan membuka pintu bagi perbuatan setan.” (HR. Muslim).
Perhatikan bagaimana beliau merangkai nasihat ini. Ada tiga langkah besar di sana:
-
Berusaha sungguh-sungguh pada hal yang bermanfaat.
-
Memohon pertolongan kepada Allah.
-
Menjauhi sikap lemah dan putus asa.
Mengapa demikian? Karena hidup ini bukan sekadar menunggu nasib. Ia adalah perjalanan. Ia adalah perjuangan. Dan doa hanyalah salah satu tiang penopangnya. Tiang yang kokoh, tapi tetap perlu pondasi usaha dan dinding keyakinan.
Maka jangan biarkan diri terjebak dalam angan-angan kosong. Jangan berharap buah tanpa menanam benihnya. Jangan pula mengeluh ketika jalan terasa berat, karena mungkin itulah tanda bahwa engkau sedang mendaki menuju puncak.
Dan ingatlah, ketika hasil akhirnya tidak sesuai harapan, jangan mengucapkan, “Seandainya aku dulu…” Sebab kata itu hanya akan membebani hatimu, merusak ketenangan jiwamu, dan membuka pintu penyesalan yang tak berujung. Lebih baik katakan, “Allah telah menetapkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.”
Sebab pada akhirnya, segala yang terjadi di dunia ini adalah bagian dari rencana-Nya. Dan rencana-Nya, selalu lebih baik dari angan-angan kita.
Perpaduan Antara Usaha dan Kepasrahan
Pernahkah kita merenung, mengapa dalam ajaran Islam, usaha dan kepasrahan selalu disebut berdampingan? Mengapa kita diajarkan untuk bekerja keras, tapi pada saat yang sama diminta untuk pasrah kepada takdir? Karena hidup memang seperti itu -sebuah perjalanan antara usaha dan tawakkal, antara merencanakan dan menerima.
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, dalam hadisnya, mengajarkan keseimbangan ini dengan sangat indah. Di satu sisi, beliau mendorong kita untuk berusaha sungguh-sungguh, untuk tidak pernah menyerah, dan untuk selalu bergerak menuju kebaikan. Tapi di sisi lain, beliau mengingatkan kita bahwa hasil akhirnya bukan sepenuhnya ada di tangan kita. Ada Yang Maha Mengatur, Yang Maha Berkehendak.
Beliau membagi urusan manusia menjadi dua:
Pertama, perkara yang masih bisa diusahakan. Hal-hal yang masih bisa diperjuangkan, yang hasilnya masih bisa diubah, yang kesudahannya masih bisa diperbaiki. Untuk perkara ini, beliau mengajarkan kita untuk tidak malas, untuk bekerja keras, untuk menggunakan akal dan tenaga sebaik mungkin, sambil terus memohon pertolongan dari Allah.
Kedua, perkara yang sudah terjadi, yang tak lagi bisa diubah, yang sudah menjadi bagian dari ketetapan Allah. Untuk hal ini, beliau mengajarkan sikap lapang dada, menerima dengan ikhlas, dan menghindari penyesalan yang tak ada habisnya.
Karena jika hati terus bergulat dengan masa lalu, menyesali yang telah terjadi, maka hidup akan terasa berat dan langkah akan terasa lambat. Dan bukankah kita tahu, bahwa dunia ini adalah tempat berlalu, bukan tempat berdiam?
Maka, berusahalah dengan gigih, tapi pasrahlah dengan bijak. Berdoalah dengan penuh harap, tapi terimalah dengan penuh ikhlas. Karena pada akhirnya, hasil dari semua usaha kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya lah kita akan kembali.
Penutupan
Hidup ini adalah rangkaian dari detik-detik yang terus bergerak. Tidak ada yang kembali, tidak ada yang bisa diulang. Maka, jangan biarkan hari ini berlalu sia-sia hanya karena kita terlalu sibuk menoleh ke belakang atau terlalu takut menatap ke depan.
Hari ini adalah kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki yang salah, untuk menyempurnakan yang kurang, untuk menanam kebaikan, dan untuk merajut hubungan dengan Sang Pencipta.
Maka, hadapilah hari ini dengan penuh tekad. Berikan yang terbaik, bukan untuk sekadar bertahan, tapi untuk meninggalkan jejak kebaikan yang akan terus berbicara meski kita telah tiada.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang pandai menghargai waktu, yang hati dan pikirannya terfokus pada hari ini, yang tidak mudah terombang-ambing oleh masa lalu atau terperangkap dalam kecemasan akan masa depan. Aamiin.
Oleh: Hafizh Abdul Rohman, Lc
Rujukan:
Al-Wasā’il al-Mufīdah li al-Ḥayāh as-Sa‘īdah, Syaikh ‘Abdurraḥmān bin Nāshir as-Sa‘dī raḥimahullāh